KabarBaik.co, Surabaya – Pemkot Surabaya resmi ditunjuk sebagai lokasi peluncuran perdana program Partnership for Preventing Riverine Plastic Pollution. Program ini merupakan bentuk kolaborasi antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Norwegia yang bertujuan menekan pencemaran sampah plastik di sungai sebelum bermuara ke laut.
Program yang didukung oleh Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Lingkungan Hidup, United Nations Development Programme (UNDP), serta Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL) ini menempatkan Surabaya sebagai daerah percontohan nasional. Penunjukan ini dilakukan dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya M. Fikser menyatakan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan pemerintah pusat. Menurutnya, program yang saat ini berjalan di Kali Tebu dan Kali Merutu telah menunjukkan hasil yang nyata.
“Setiap hari rata-rata satu ton sampah plastik berhasil diangkat dari kedua sungai tersebut melalui kolaborasi antara pemerintah daerah dan berbagai organisasi lingkungan yang terlibat,” ujar Fikser di Ruang Praban, Lantai 3 Kantor Bappeda Kota Surabaya, Jumat (5/6).
Lebih dari Sekadar Pembersihan
Fikser menjelaskan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada kegiatan fisik pembersihan sungai, tetapi juga mengedepankan aspek edukasi dan perubahan perilaku masyarakat. Pendekatan ini dianggap sebagai kunci utama agar masalah sampah dapat diselesaikan dari akarnya.
“Program ini juga mengajarkan masyarakat untuk memilah, menyortir, dan mengemas sampah untuk dijual kembali. Proses ini melibatkan warga setempat sehingga menciptakan peluang ekonomi baru sekaligus memberikan nilai tambah,” jelasnya.
Perubahan positif sudah mulai terlihat, terutama di kawasan Kali Tebu yang kini tampak lebih bersih. Kesadaran warga untuk tidak membuang sampah sembarangan juga mulai tumbuh. Keberhasilan ini sejalan dengan target Wali Kota Surabaya untuk mencapai pengurangan sampah hingga 40 persen.
Saat ini, timbulan sampah di Surabaya mencapai sekitar 1.800 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 200 ton telah dimanfaatkan kembali, 1.000 ton diolah menjadi energi listrik melalui gasifikasi, dan sisanya sekitar 600 ton masih berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).
Untuk mempercepat pengurangan sampah ke TPA, Surabaya juga ditunjuk sebagai lokasi pengembangan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik baru di kawasan Sumberrejo. Lahan seluas 5,8 hektare sedang disurvei dan ditargetkan mulai dibangun akhir tahun ini, yang nantinya juga dapat melayani wilayah Surabaya Raya.
Perubahan Perilaku Jadi Kunci
Ketua Kelompok Kerja Perubahan Perilaku Masyarakat, Sri Morwani Nifadilastuti, menegaskan bahwa penyelesaian masalah sampah tidak lepas dari kesadaran warga. Pemilahan sampah sejak dari rumah menjadi kunci agar sampah tidak berakhir di sungai atau tempat pembuangan liar.
“Pengurangan dan pemilahan sampah dari sumbernya menjadi kunci dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan. Sampah yang dikelola dengan baik dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Senada, Koordinator Sekretariat TKN PSL, Ahmad Bahri Rambe, menyebut sinergi antar berbagai pihak sangat penting. “Selain kegiatan pembersihan sungai, edukasi masyarakat menjadi komponen utama agar perubahan perilaku dapat terbangun secara jangka panjang,” katanya.
Sementara itu, perwakilan Kemenko Pangan, Ahmad Didin, mengungkapkan bahwa meski program ini dilaksanakan di lima wilayah (Surabaya, Sidoarjo, Bekasi, Solo, dan Bali), Surabaya dipilih menjadi yang pertama diluncurkan karena komitmen dan inovasinya yang kuat.
“Surabaya diharapkan menjadi model bagi daerah lain. Jika implementasinya berhasil, berbagai praktik baik di sini dapat direplikasi secara nasional,” pungkas Ahmad Didin. (*)







