KabarBaik.co – Produksi sampah harian di Kabupaten Bojonegoro masih tinggi. Setiap hari, sedikitnya 368 ton sampah muncul di wilayah ini. Data tersebut terungkap dalam rapat koordinasi Pemkab Bojonegoro bersama Tim Penilai Adipura Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).
Dalam rapat tersebut, Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah turut hadir bersama jajarannya, termasuk Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro Luluk Alifah. Dalam pemaparan tim, volume sampah itu dihitung berdasarkan indeks timbulan sampah sebesar 0,27 kilogram per orang per hari.
Wida, perwakilan Tim Penilai Adipura dari KLH, menyoroti tingginya timbulan sampah tersebut. Ia memberikan sejumlah arahan kepada Pemkab Bojonegoro, termasuk mendorong untuk menghentikan praktik open dumping di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
“Kita juga meminta pemerintah daerah untuk memperbanyak fasilitas daur ulang sampah, mengingat 90 persen sampah di Bojonegoro dilaporkan belum terkelola,” ujar Wida, Kamis (5/12).
Menanggapi hal itu, Kepala DLH Bojonegoro Luluk Alifah menyampaikan apresiasi atas perhatian dan arahan Tim Penilai Adipura. Ia menegaskan bahwa Pemkab Bojonegoro terus berupaya mewujudkan pengelolaan sampah yang lebih baik sesuai amanat Perda Bojonegoro Nomor 7 Tahun 2025 dan Surat Edaran Bupati Bojonegoro Nomor 800/997/412.217/2025.
“Regulasi tersebut menjadi dasar kami untuk pelaksanaan pemilahan dan pendataan sampah sejak dari sumbernya,” terang Luluk. Ia menyebut salah satu program yang berjalan adalah Satu Desa Satu Bank Sampah (SDSB), sebuah inisiatif pengelolaan sampah berbasis komunitas di tingkat desa.
Sementara itu, Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah menegaskan bahwa pengelolaan sampah memang tidak mudah. Namun, pemerintah daerah berkomitmen untuk mengelola sampah dari hulu hingga hilir, dengan semangat kolaborasi dan advokasi.
Saat ini, Bojonegoro memiliki dua TPA yang semuanya masih menggunakan pola open dumping, yaitu TPA Banjarsari di Kecamatan Trucuk seluas 4,9 hektare dengan kapasitas 134.440 meter kubik, serta TPA Bandungrejo di Kecamatan Ngasem seluas 3,8 hektare dengan kapasitas 210.000 meter kubik. (*)







