KabarBaik.co, Banyuwangi – Fenomena El Nino kembali melanda pada tahun 2026. Di Banyuwangi ada 11 kecamatan yang berisiko tinggi mengalami kekeringan akibat fenomena tersebut.
Sebelas kecamatan itu diantaranya Wongsorejo, Blimbingsari, Singojuruh, Kabat, Gambiran, Siliragung, Muncar, Purwoharjo, Bangorejo, Pesanggaran, dan Tegaldlimo.
Kalaksa BPBD Banyuwangi, Partana, mengatakan BPBD membagi dampak El Nino menjadi tiga klaster. Sebelas daerah masuk zona tinggi, empat zona sedang hingga dan sepuluh zona rendah.
“Untuk kluster risiko tinggi kekeringan terdapat 11 kecamatan, kemudian sedang ada 4 kecamatan, sedangkan kluster rendah ada 10 kecamatan,” kata Partana, Senin (20/4).
Potensi risiko sedang terjadi Glagah, Kalipuro, Giri, dan Cluring. Sementara Potensi risiko rendah terjadi di Banyuwangi, Rogojampi, Tegalsari, Srono, Songgon, Glenmore, Genteng, Licin, Kalibaru, dan Sempu.
Partana menyebut, pemetaan wilayah tersebut mengacu pada rekam jejak El Nino terparah yang pernah menghantam Banyuwangi, yakni pada tahun 2015 dan 2023.
“Wilayah klaster tinggi itu terbilang makin meluas tahun ini, karena bisa dibilang ketersediaan air semakin menyusut,” ujar Partana.
Sebagai informasi, El Nino merupakan fenomena alam berupa pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah, hingga timur di atas rata-rata normal. Terjadinya peristiwa ini berdampak pada penurunan curah hujan, menyebabkan musim kemarau yang lebih kering.
Berdasarkan prakiraan BMKG, El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat berpotensi melanda Indonesia pada semester II 2026, khususnya April hingga Oktober.






