Australia dan India Jajaki Impor Pupuk RI, Pemerintah Prioritaskan Kebutuhan Dalam Negeri

oleh -135 Dilihat
Wamentan Sudaryono (kanan) menerima kunjungan Duta Besar India Sandeep Chakravorty.
Wamentan Sudaryono (kanan) menerima kunjungan Duta Besar India Sandeep Chakravorty.

KabarBaik.co, Jakarta — Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menerima kunjungan dua duta besar negara mitra, yakni Australia dan India, dalam dua hari berturut-turut pada 15–16 April 2026. Dalam pertemuan tersebut, kedua negara menjajaki peluang impor pupuk dari Indonesia di tengah terganggunya rantai pasok global.

Pertemuan dengan Duta Besar Australia untuk Indonesia berlangsung pada Rabu (15/4), sementara audiensi dengan Duta Besar India Sandeep Chakravorty digelar pada Kamis (16/4) di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta.

Wamentan Sudaryono atau yang akrab disapa Mas Dar menyampaikan bahwa kondisi geopolitik global, termasuk dampak penutupan Selat Hormuz, telah memengaruhi distribusi pupuk dunia. Sekitar sepertiga pasokan pupuk global melewati jalur tersebut, sehingga gangguan yang terjadi berdampak signifikan terhadap ketersediaan pupuk internasional.

“Dengan adanya disrupsi ini, banyak negara membutuhkan urea. Indonesia memiliki keunggulan karena mampu memproduksi urea dari gas alam domestik, sehingga kita tidak bergantung pada impor untuk komoditas tersebut,” ujar Wamentan Sudaryono.

Ia menegaskan bahwa ketahanan pupuk nasional tetap terjaga di tengah situasi global yang tidak menentu. Bahkan, Indonesia mencatatkan surplus produksi yang membuka peluang ekspor ke sejumlah negara.

“Inikan membuktikan bahwa kita punya ketahanan pupuk di tengah situasi perang ini, ketahanan pupuk kita kuat. Saya ingin menyampaikan kepada seluruh petani di Indonesia bahwa pupuk kita cukup dan tidak terpengaruh oleh kondisi perang, bahkan berlebih,” kata Wamentan Sudaryono.

Secara kapasitas, produksi pupuk nasional yang dikelola PT Pupuk Indonesia (Persero) mencapai 14,65 juta ton per tahun, terdiri dari urea 9,36 juta ton, NPK 4,52 juta ton, ZA 750 ribu ton, dan ZK 20 ribu ton. Untuk 2026, produksi urea ditargetkan mencapai 7,8 juta ton dengan kebutuhan subsidi sekitar 6,3 juta ton, sehingga terdapat potensi surplus sekitar 1,5 juta ton.

“Kita Indonesia akan mengutamakan kebutuhan pupuk dalam negeri. Setelah kita hitung, ada ekses atau kelebihan sekitar 1,5 juta ton yang bisa kita ekspor ke luar negeri,” jelasnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan petani dalam negeri tetap menjadi prioritas utama pemerintah.

“Kebutuhan pupuk untuk petani Indonesia adalah super prioritas. Setelah itu terpenuhi, baru sisa produksi dapat dialokasikan untuk ekspor,” tegasnya.

Selain Australia dan India, minat terhadap pupuk Indonesia juga datang dari sejumlah negara lain seperti Filipina dan Brasil. Namun, pemerintah tetap berhati-hati agar tidak menjanjikan pasokan yang melebihi kemampuan produksi nasional.

Khusus untuk India, peluang ekspor dinilai cukup besar karena adanya perbedaan musim tanam yang memungkinkan pasokan tetap aman di dalam negeri.

“Pada prinsipnya, pemerintah Indonesia siap untuk kita bisa ekspor urea ke India, karena perbedaan musim tanam membuat pasokan tetap aman di dalam negeri,” lanjutnya.

Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, menyambut positif peluang tersebut dan menyatakan kesiapan negaranya untuk menjalin kerja sama pembelian pupuk melalui skema antar pemerintah.

“Ada permintaan dari India untuk mengimpor pupuk dari Indonesia. Bapak Wamentan telah menyampaikan dengan sangat jelas bahwa ekspor hanya akan dilakukan setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi. Jika terdapat surplus, maka kami akan sangat senang untuk membelinya dari Indonesia melalui skema kerja sama antar pemerintah (G2G),” terangnya.

Sementara itu, Direktur Utama Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC), Rahmad Pribadi, memastikan kebijakan ekspor akan dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan siklus tanam nasional.

“Kita ekspor ketika kebutuhan dalam negeri mencukupi. Kalau hitungan total nasional kan ada ekses tapi kita tahu ada musim tanam dan musim di luar tanam. Kita tidak mungkin ekspor saat musim tanam,” jelas Rahmad.

Ia menambahkan, kondisi tersebut menunjukkan ketahanan industri pupuk nasional di tengah tekanan global.

“Ini membuktikan resiliensi Indonesia di tengah gejolak global. Di sektor industri pupuk, kita tidak rentan, justru bisa mengambil peran membantu negara-negara yang membutuhkan pupuk,” tambahnya.

Dari sisi ketersediaan, stok pupuk nasional dalam kondisi memadai. Saat ini stok mencapai 1,2 juta ton, dengan tambahan produksi harian sekitar 25.000 ton urea dan 15.000 ton NPK.

“Ini hubungan yang resiprokal. Kita saling membutuhkan. Yang penting adalah bagaimana kita mengamankan kepentingan nasional sekaligus menjaga hubungan dagang yang sehat,” ujar Wamentan Sudaryono terkait kerja sama dengan Australia.

Ia juga memastikan bahwa distribusi pupuk subsidi di dalam negeri berjalan baik, meskipun di lapangan terkadang terjadi kekosongan sementara akibat tingginya serapan.

“Kalau ada petani yang tidak menemukan pupuk di kios, itu lebih kepada distribusi yang sedang berjalan cepat. Dalam 1–2 hari biasanya sudah tersedia kembali. Artinya pupuk ada dan cukup,” jelasnya.

Ke depan, pemerintah berencana melakukan peremajaan pabrik pupuk untuk meningkatkan efisiensi dan kapasitas produksi nasional. Dengan langkah tersebut, Indonesia diharapkan tidak hanya mampu menjaga ketahanan pangan nasional, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai pemasok pupuk di pasar global.(*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: F. Noval
Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.