Bahan Baku Melonjak, Produsen Onde-Onde Pelangi di Wisata Religi Tanggul Jember Menjerit

oleh -63 Dilihat
onde-onde pelangi ini di area depan Masjid Habib Sholeh Tanggul.
Pedagang onde-onde pelangi di area depan Masjid Habib Sholeh Tanggul saat melayani pembeli.

KabarBaik.co, Jember – Kawasan wisata religi terbukti menjadi episentrum ekonomi yang menjanjikan bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mendulang pundi-pundi rupiah. Namun, di tengah pelemahan nilai tukar mata uang, para pedagang kecil di sekitar makam keramat kini harus memutar otak lebih keras akibat dihantam lonjakan harga bahan baku.

Kondisi yang memprihatinkan tersebut salah satunya dirasakan oleh Sumiati, seorang perempuan tangguh yang telah dua tahun terakhir menekuni bisnis kuliner jajanan khas Onde-Onde Pelangi di Kecamatan Tanggul, Kabupaten Jember.

Dari usaha rumahan inilah dirinya saban hari mengumpulkan rupiah demi menopang kebutuhan dapur keluarga serta membiayai pendidikan anak-anaknya ke jenjang sekolah.

Kudapan unik khas Tanggul ini sengaja dikonsep dengan tampilan warna-warni yang mencolok menyerupai pelangi guna memikat perhatian para pelancong domestik maupun barisan jemaah peziarah di kompleks makam agung Habib Sholeh Tanggul.

“Saya sudah dua tahun konsisten berjualan menu onde-onde pelangi ini di area depan Masjid Habib Sholeh Tanggul. Penamaan pelangi ini spontan lahir karena tampilannya yang warna-warni,” ujar Sumiati saat membeberkan usahanya, Sabtu (6/6).

Mengenai harga jual, Sumiati memilih bersikap realistis dengan mengikuti harga pasaran lokal, di mana per bijinya dibanderol sangat murah cukup Rp 2.000 saja.

Kendati murah, keunggulan dari onde-onde pelangi ini terletak pada inovasi rasa di mana ruang dalamnya diisi dengan varian susu vanila yang legit, sangat kontras dengan isian onde-onde konvensional pada umumnya.

onde-onde pelangi ini di area depan Masjid Habib Sholeh Tanggul.
onde-onde pelangi di area depan Masjid Habib Sholeh Tanggul.

“Onde-onde pelangi racikan saya mempunyai rasa yang berbeda. Sentuhan susu vanila di dalamnya membuat pembeli tidak mudah bosan dan selalu ketagihan,” ucapnya mempromosikan keunikan produk.

Volume produksi harian onde-onde milik Sumiati sebenarnya tergolong sangat tinggi. Untuk hari-hari biasa (weekday), dapur produksinya rata-rata menghabiskan 15 kilogram tepung. Jumlah tersebut dipastikan melonjak drastis hingga menyentuh angka 30 kilogram saat momentum akhir pekan (weekend) dan musim libur sekolah tiba.

Nahas, semenjak nilai tukar rupiah berfluktuasi melemah, Sumiati mengaku omset hariannya merosot tajam dan tidak lagi semanis cita rasa onde-onde buatannya. Hal ini dipicu oleh draf harga tepung yang meroket dari Rp 200 ribu menjadi Rp 260 ribu per kemasan 10 kilogram. Setali tiga uang, komoditas minyak goreng isi 2 kilogram ikut melambung dari Rp 35 ribu menjadi Rp 45 ribu.

“Untuk saat ini, target saya yang penting dagangan laku terjual habis dulu. Kalau untuk hitungan keuntungan bersih sudah turun drastis karena harga bahan baku utama naik gila-gilaan,” keluh Sumiati terus terang membedah berkas modalnya.

Di tengah situasi yang menghimpit ini, dirinya hanya bisa menyodorkan harapan besar kepada pemerintah daerah maupun pusat agar lebih peka dan memberikan atensi khusus bagi para pelaku UMKM skala mikro. Warga kecil seperti dirinya sangat bergantung pada stabilitas harga bahan pokok di pasar demi mengunci keberlangsungan ekonomi keluarga.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Zia Ulhaq
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.