KabarBaik.co, Jember – Pendidikan tinggi bukan cuma milik mereka yang tinggal di perkotaan atau berlatar belakang keluarga berada. Pesan penuh pemantik semangat ini disampaikan langsung oleh Bupati Jember Muhammad Fawait, saat membakar motivasi ratusan siswa SMPN 1 Pakusari.
Kehadiran orang nomor satu di Jember tersebut merupakan rangkaian dari agenda berkantor di desa, atau yang dikenal dengan program Bunga Desaku.
Di hadapan para pelajar, Gus Fawait membagikan kisah masa lalunya untuk membuktikan bahwa anak daerah pun mampu bersaing. Sebelum mengemban amanat sebagai bupati maupun menjabat anggota DPRD Jawa Timur selama satu dekade, ia hanyalah seorang anak pesantren dari wilayah barat Jember.
“Saya lulusan sekolah pondok di Kecamatan Jombang, ujung barat Jember. Kondisinya tidak jauh beda dengan Pakusari,” ujarnya, Selesa (21/7).
Keterbatasan asal-usul tak menyurutkan langkahnya menembus Universitas Airlangga (Unair) Surabaya hingga akhirnya dipercaya memimpin Kabupaten Jember.
Dari pengalamannya itu, Gus Fawait menantang para siswa untuk berani bermimpi menempuh pendidikan hingga ke bangku kuliah.
Menjawab kecemasan para murid terkait masalah finansial, Gus Fawait menegaskan bahwa kuncinya ada pada kemauan menuntut ilmu, bukan pada latar belakang ekonomi keluarga.
“Anak orang kaya atau keturunan darah biru bisa jadi bukan siapa-siapa jika tidak berilmu,” tegasnya.
Sebaliknya, latar belakang keluarga kurang mampu bukan alasan untuk gagal. Seseorang bisa menjadi pejabat, ulama, atau figur sukses selama memiliki pengetahuan yang mumpuni.
Untuk mendukung hal tersebut, Pemkab Jember terus memfasilitasi akses pendidikan tinggi bagi warganya. Setelah sukses menguliahkan lebih dari 7.000 anak pada tahun sebelumnya, tahun ini Pemkab Jember kembali mengalokasikan kuota beasiswa untuk 4.000 anak daerah, baik jalur prestasi akademik, non-akademik, maupun bantuan bagi yang kurang mampu.
Namun, Gus Fawait memberikan satu syarat utama bagi para lulusan SMP/MTs: tidak boleh berhenti sekolah. Mereka wajib melanjutkan studi ke tingkat SMA, SMK, atau MA agar kelak dapat mengakses bantuan beasiswa kuliah tersebut.
Sebagai penutup, ia mengingatkan para generasi muda Jember untuk tidak tanggung-tanggung dalam mengasah potensi diri.
“Jadi orang jangan nanggung. Kalau nanggung itu ibarat kayu kecil serba tanggung. Tapi kalau tumbuh besar, kayu itu bisa diolah jadi pintu, kusen, dan hal bermanfaat lainnya,” tutup Gus Fawait.(*)






