Cegah Bencana Ekologis, BPBD Jember Inisiasi Gerakan Memilah Sampah dari Hulu

oleh -86 Dilihat
Petugas BPBD Jember melakukan pemilahan sampah. (Foto: Ist)
Petugas BPBD Jember melakukan pemilahan sampah. (Foto: Ist)

KabarBaik.co, Jember – Langkah progresif dan inovatif ditunjukkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember.

Di tengah ancaman krisis lingkungan akibat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari yang kian kritis dan overload, lembaga yang biasanya sibuk mengurusi kebencanaan ini kini menginisiasi gerakan penanggulangan bencana ekologis dari hulu: memilah sampah mandiri langsung dari lingkungan kantor.

Aksi nyata ini lahir dari keprihatinan mendalam terhadap kondisi TPA Pakusari yang menerima limpahan sampah hingga 200 ton setiap hari, dengan ketinggian gunungan sampah mencapai 25 meter.

Jika tidak ada pembatasan atau pengelolaan ekstrem dari masyarakat, kawasan hilir pembuangan tersebut terancam ditutup total, yang berpotensi memicu bencana lingkungan baru di Kabupaten Jember.

Kepala BPBD Kabupaten Jember Edy Budi Susilo, menyampaikan bahwa kesadaran ini harus dimulai dari diri sendiri. Menurutnya, setiap aktivitas kedinasan sekecil apa pun—termasuk saat Aparatur Sipil Negara (ASN) menikmati makan siang pasti menghasilkan sampah.

“Kami di BPBD menginisiasi dan mencoba mengelola sampah hasil produk dari kita semua. Setelah kami hitung, ternyata volumenya lumayan juga. Per hari rata-rata sekitar 5 sampai 7 kilogram sampah dihasilkan di kantor ini. Jika diakumulasikan dalam seminggu, bisa mencapai 50 kilogram sampah, baik organik maupun anorganik,” ujar Edy, Rabu (3/6).

BPBD Jember membuktikan bahwa dengan manajemen yang tepat, sampah tidak akan menjadi beban lingkungan. Edy menjelaskan bahwa Kantor BPBD Jember kini menerapkan sistem zonasi pembuangan sampah yang ketat menggunakan beberapa tong sampah berkode warna, lewat Sistem Komposter Organik (Air Lindi) dan Gerakan Sedekah Sampah Kering.

“Sampah sisa makanan dan dedaunan tidak lagi dibuang ke tempat sampah umum. Sampah-sampah ini dimasukkan ke dalam instalasi tong komposter khusus. Melalui proses fermentasi, sampah organik berhasil diolah menjadi air lindi (pupuk organik cair) berkualitas tinggi serta pupuk kompos padat. Pupuk ini langsung dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman hias dan penghijauan di area kantor,” jelasnya.

Sementara itu, untuk jenis sampah anorganik atau sampah kering seperti botol plastik, gelas plastik bekas air mineral, kertas, hingga kardus, dikumpulkan dalam kondisi bersih.

Menariknya, BPBD Jember mengintegrasikan program peduli lingkungan ini dengan aksi sosial. Sampah kering yang bernilai ekonomi tersebut dikemas dalam kantong besar dan secara rutin disumbangkan kepada para pemulung yang biasa beroperasi di sekitar kantor.

“Ada dua orang pemulung yang biasanya selalu singgah di tempat kami. Sampah daur ulang ini kami berikan kepada mereka sebagai wujud sedekah sampah yang bernilai ekonomi dan langsung bisa dimanfaatkan oleh teman-teman pemulung,” tambah Edy.

Adapun untuk sampah yang benar-benar tidak memiliki nilai daur ulang atau residu yang tidak bisa terurai, dipisahkan secara khusus pada wadah tersendiri agar tidak mengontaminasi jenis sampah lainnya.

Edy menegaskan, persoalan sampah sebenarnya bukanlah masalah yang pelik asalkan ada kemauan kolektif untuk memilahnya sejak dari sumber pertama.
“Kami berharap langkah kecil yang konsisten ini dapat menginspirasi instansi pemerintah lainnya di Jember,” pungkasnya.(*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dwi Kuntarto Aji
Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.