Dari Celana Tambang Bekas, Perempuan Asal Blitar Ini Sulap Jadi Tas Bernilai Ratusan Ribu

oleh -109 Dilihat
IMG 20260726 WA0022
Ardhiana Malrasari memperlihatkan tas buatannya. (Foto: Calvin BT)

KabarBaik.co, Blitar – Tumpukan celana jeans bekas pekerja tambang yang biasanya berakhir di tempat sampah, justru menjadi sumber rezeki bagi Ardhiana Malrasari. Perempuan 42 tahun asal Perumahan Tirtomadu, Jalan Madura, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar itu mampu mengubah limbah fesyen menjadi tas, topi, hingga pouch dengan nilai jual mencapai ratusan ribu rupiah.

Siapa sangka usaha tersebut lahir dari situasi yang serba sulit saat pandemi Covid-19. Kala itu, Ardhiana yang sejak 2015 menekuni usaha kerajinan tas berbahan kain impor mendadak kehilangan pasokan bahan baku akibat pembatasan impor. “Saya sudah lama membuat tas dari kain impor. Waktu pandemi bahan bakunya sulit didapat, akhirnya saya berpikir harus mencari alternatif lain,” kenangnya.

Di tengah kebingungan itu, matanya tertuju pada tumpukan celana jeans bekas milik sang suami yang bekerja di perusahaan tambang di Kalimantan. Awalnya hanya iseng mencoba memanfaatkan kain tersebut. Namun setelah dipadukan dengan batik ciprat karya penyandang disabilitas, hasilnya justru menarik perhatian banyak orang. “Dari situ saya coba bongkar, saya buat pola, ternyata hasilnya bagus dan banyak yang suka,” ujarnya.

Kini, limbah celana tambang itu berubah menjadi berbagai produk fesyen seperti tas berbagai ukuran, topi, tempat tisu hingga pouch. Semua diproduksi di rumahnya dengan bantuan dua orang pekerja.

Sebelum diolah, setiap celana jeans harus melalui proses yang cukup panjang. Mulai dicuci ulang, dipilah berdasarkan tingkat kepudaran warna, dibongkar jahitannya, kemudian dipotong sesuai pola sebelum akhirnya dijahit menjadi produk baru. “Warnanya harus dipilih dulu supaya nanti perpaduannya bagus. Setelah itu baru dipotong dan dijahit sesuai desain,” katanya.

Proses yang rumit membuat setiap produk memiliki nilai jual cukup tinggi. Satu tas dibanderol mulai Rp 150 ribu hingga Rp 400 ribu, tergantung ukuran dan tingkat kesulitannya. Dalam sebulan, Ardhiana mampu memproduksi sekitar 50 tas dengan omzet berkisar Rp 3 juta hingga Rp 7 juta.

Selain menjual produk, ia juga ingin mengajak masyarakat melihat limbah fesyen dari sudut pandang berbeda. Baginya, barang bekas tidak selalu menjadi sampah jika diolah dengan kreativitas. “Limbah itu masih punya nilai. Tinggal bagaimana kita mengolahnya supaya bisa bermanfaat lagi,” tuturnya.

Hingga kini pemasaran produknya masih mengandalkan media sosial dan pesanan langsung. Pembelinya datang dari berbagai daerah, bahkan beberapa di antaranya membawa tas buatan Ardhiana sebagai oleh-oleh ke luar negeri. “Alhamdulillah banyak yang pesan dari luar kota. Ada juga yang dijadikan oleh-oleh ke luar negeri. Kami juga menerima pesanan sesuai keinginan pembeli,” pungkasnya. (*) 

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Calvin BT
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.