KabarBaik.co, Blitar – Kenaikan harga kacang tanah memaksa pelaku usaha jajanan tradisional di Kota Blitar mencari berbagai cara agar produksi tetap berjalan. Salah satunya dilakukan Asna Rosida, 52, produsen enting-enting dan geti di Kelurahan Karangsari, Sukorejo, yang memilih mengubah komposisi bahan baku sekaligus menyesuaikan harga jual produknya.
Asna mengatakan harga kacang tanah yang semula sekitar Rp 25 ribu per kilogram kini melonjak menjadi Rp 40 ribu per kilogram. Kenaikan hampir 50 persen itu menjadi tantangan terbesar yang dihadapi usahanya dalam beberapa tahun terakhir.
“Tantangan terbesar sekarang memang harga kacang tanah. Kenaikannya luar biasa, hampir 50 persen dibanding sebelumnya,” ujarnya, Selasa (7/7)
Agar usahanya tidak merugi, Asna menaikkan harga jual enting-enting dan geti dari Rp 50 ribu menjadi Rp 60 ribu per kilogram. Namun, kenaikan tersebut tidak sepenuhnya mengikuti lonjakan harga bahan baku karena ia khawatir daya beli konsumen akan turun.
“Harga kacang naik hampir 50 persen, tapi harga jual saya naikkan sekitar 30 persen saja. Saya ambil jalan tengah supaya reseller tetap mudah menjual ke konsumen,” katanya.
Selain menyesuaikan harga, Asna juga melakukan inovasi pada produknya. Jika sebelumnya enting-enting dan geti dibuat menggunakan satu jenis bahan utama, kini ia memadukan kacang tanah dengan wijen. Menurutnya, cara tersebut mampu menjaga kualitas rasa sekaligus memberikan nilai jual yang lebih baik.
“Sekarang saya campur kacang dengan wijen. Rasanya justru lebih gurih dan harga jualnya juga bisa menyesuaikan. Selama lebih dari 10 tahun usaha, baru kali ini saya mengalami harga kacang lebih mahal daripada wijen,” ungkapnya.
Meski biaya produksi meningkat, Asna mengaku kapasitas usahanya belum mengalami penurunan. Setiap hari ia masih mampu memproduksi sekitar satu kuintal enting-enting dan geti dengan kebutuhan kacang tanah mencapai 75 kilogram per hari.
Produk buatannya dipasarkan ke berbagai pusat oleh-oleh di Blitar dan sejumlah daerah di luar Pulau Jawa, seperti Balikpapan, Bima, dan Bali.
“Alhamdulillah produksinya masih stabil. Pesanan tetap ada, sehingga saya juga masih bisa mempertahankan karyawan,” pungkasnya. (*)






