KabarBaik.co, Surabaya – Menguatnya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah membawa angin segar bagi industri mebel dan kerajinan nasional yang berorientasi ekspor. Sebab, sebagian besar transaksi perdagangan internasional sektor tersebut menggunakan mata uang dolar AS, sehingga pelaku usaha memperoleh nilai pendapatan yang lebih besar saat dikonversi ke rupiah.
Ketua Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur mengatakan penguatan dolar memang memberikan keuntungan bagi eksportir mebel Indonesia. Namun, keuntungan tersebut tidak sepenuhnya dinikmati karena sebagian kebutuhan industri masih bergantung pada barang dan jasa yang menggunakan mata uang dolar.
“Kalau dolar naik tentu eksportir menerima pembayaran dalam bentuk dolar sehingga nilainya lebih besar. Tetapi itu sifatnya sementara karena ada juga kebutuhan yang menggunakan dolar, seperti pembelian mesin, logistik, hingga bahan finishing,” kata Sobur di Surabaya, Minggu (7/6).
Meski demikian, industri mebel nasional dinilai masih berada pada posisi yang lebih diuntungkan. Pasalnya, sekitar 70 persen bahan baku yang digunakan berasal dari dalam negeri, mulai dari kayu hingga rotan yang selama ini menjadi andalan produk mebel Indonesia di pasar global.
Menurut Sobur, tingginya kandungan lokal membuat biaya produksi tidak terlalu terpengaruh oleh pelemahan rupiah. Karena itu, kenaikan nilai dolar tetap memberikan dampak positif bagi pelaku usaha.
“Kandungan lokal kita cukup besar. Kayu dan rotan berasal dari dalam negeri. Jadi ketika dolar naik, pelaku usaha memang merasakan manfaatnya karena sebagian besar biaya produksi tidak bergantung pada impor,” ujarnya.
HIMKI memperkirakan ketergantungan industri mebel terhadap produk impor hanya sekitar 25 persen. Komponen impor tersebut umumnya berupa mesin produksi modern yang digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan kapasitas pabrik.
Kondisi tersebut membuat pelaku industri semakin optimistis menghadapi pasar ekspor. Bahkan, penguatan dolar disebut turut mendorong perusahaan untuk memperbesar investasi dan meningkatkan kapasitas produksi guna memenuhi permintaan pasar internasional yang terus bertumbuh.
“Sekarang kita bersemangat. Mesin-mesin didatangkan untuk menopang produksi yang lebih besar. Dengan teknologi, kapasitas produksi bisa meningkat dua sampai tiga kali lipat dibanding cara konvensional,” jelasnya.
HIMKI yang menaungi sekitar 2.500 industri mebel dan kerajinan menilai peluang ekspor masih terbuka lebar. Pertumbuhan pasar mebel dunia yang diperkirakan mencapai sekitar 7 persen per tahun menjadi peluang yang ingin dimanfaatkan pelaku industri nasional.
Dengan dukungan teknologi yang semakin modern, HIMKI menargetkan nilai ekspor mebel Indonesia dapat menembus US$ 6 miliar dalam empat hingga lima tahun ke depan, hampir dua kali lipat dibanding capaian saat ini.
“Kalau sebelumnya bisa membuat 10 produk, dengan teknologi bisa menjadi 20 bahkan 30 produk. Volume ekspor meningkat, permintaan bertambah, dan devisa yang masuk ke Indonesia juga semakin besar,” lanjut Sobur.
Meski menikmati keuntungan dari penguatan dolar, HIMKI tetap berharap pemerintah mampu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Menurut Sobur, kepastian ekonomi jauh lebih penting bagi dunia usaha dibanding keuntungan sesaat akibat fluktuasi kurs.
Ia menilai pemerintah perlu terus memperbaiki iklim investasi, memangkas hambatan regulasi, serta menjaga kepercayaan investor agar arus modal yang masuk ke Indonesia tetap terjaga.
“Kami berharap pemerintah bisa menjaga stabilitas. Dunia usaha membutuhkan kepastian untuk menyusun rencana jangka panjang. Jika iklim usaha baik dan kepercayaan investor terjaga, pertumbuhan industri akan semakin kuat,” pungkasnya. (*)







