Dolar Menguat: Pariwisata Kota Batu Tertekan, Pendapatan Hotel-Restoran Turun 30 Persen

oleh -122 Dilihat
WhatsApp Image 2026 06 04 at 12.34.22 PM
Ketua PHRI Kota Batu, Sujud Hariadi saat di Taman Rekreasi Selecta, Kota Batu (foto: Putut Priyono)

KabarBaik.co, Batu – Dinamika geopolitik global, termasuk eskalasi ketegangan Amerika Serikat-Iran, disebut memberi efek berantai terhadap perekonomian dunia. Kondisi tersebut turut memengaruhi nilai tukar mata uang, memperkuat dolar Amerika Serikat dan menekan rupiah, yang kemudian berdampak tidak langsung pada sejumlah sektor di Indonesia, termasuk industri pariwisata di Kota Batu.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, Sujud Hariadi, menjelaskan bahwa penguatan dolar tidak memberikan dampak langsung terhadap sektor pariwisata. Namun, efek lanjutan dari perlambatan ekonomi global dan penurunan daya beli masyarakat mulai terasa di industri perhotelan.

“Kalau penguatan dolar, dampak langsung ke pariwisata sebenarnya tidak ada. Tetapi dampak tidak langsungnya ada, terutama karena sektor industri dan produksi mengalami tekanan sehingga terjadi banyak pengurangan tenaga kerja di beberapa daerah,” ujarnya, Kamis (4/6).

Menurutnya, kondisi tersebut membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang, termasuk untuk kebutuhan wisata dan akomodasi. Hal ini berdampak pada keterbatasan pelaku usaha hotel dalam menaikkan tarif kamar, meski tingkat okupansi masih relatif stabil.

Sujud menyebut pada periode libur panjang terakhir, tingkat hunian hotel di Kota Batu sempat mencapai sekitar 80 persen. Namun, kenaikan harga kamar tidak bisa mengikuti pola tahun-tahun sebelumnya.

“Kalau dulu saat high season tarif kamar bisa naik sampai 50 persen, kemudian turun menjadi 20 sampai 30 persen. Sekarang meskipun okupansi bagus, harga kamar masih banyak yang berada di level weekday,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa tekanan daya beli masyarakat tercermin dari penurunan penerimaan pajak daerah sektor perhotelan dan restoran dalam beberapa tahun terakhir. Tren tersebut menunjukkan adanya pelemahan pendapatan industri pariwisata.

“Kalau melihat data pajak daerah, penurunannya sekitar 10 persen pada periode 2023-2024, lalu turun lagi sekitar 20 sampai 30 persen pada 2024-2025. Ini menunjukkan pendapatan usaha memang sedang tertekan,” terang dia.

Meski demikian, Sujud memastikan hingga saat ini belum terjadi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor perhotelan Kota Batu. Pelaku usaha lebih memilih langkah efisiensi operasional melalui pengurangan hari kerja atau sistem unpaid leave saat tingkat hunian menurun.

Dalam skema tersebut, karyawan tetap dipertahankan, namun jam kerja disesuaikan dengan kondisi okupansi hotel. Beberapa hotel menerapkan pola kerja lima hari kerja dua hari libur, bahkan empat hari kerja tiga hari libur pada periode sepi kunjungan. “Kalau PHK tidak ada. Yang dilakukan adalah unpaid leave atau pengurangan hari kerja,” tambahnya.

Kondisi perlambatan ini disebut sempat terjadi pada Maret hingga April lalu, dan diperkirakan berpotensi kembali berlangsung pada periode low season, terutama pada Agustus dan September mendatang, seiring fluktuasi tingkat kunjungan wisata. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Putut Priyono
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.