KabarBaik.co, Jember – Kabupaten Jember sukses memperkuat posisinya sebagai produsen beras terbesar di wilayah Tapal Kuda, Jawa Timur. Status ini dipertegas oleh rilis data produksi padi dan beras terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin (2/5) lalu.
Secara makro, BPS mencatat bahwa Jawa Timur diproyeksikan menjadi provinsi dengan potensi produksi padi tertinggi di Indonesia untuk periode Januari–Juli 2026. Angka estimasinya menembus 7,71 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), mengalami lonjakan 5,49 persen dibanding periode yang sama di tahun lalu yang berada di angka 7,30 juta ton GKG.
Di tingkat regional, Kabupaten Jember menyumbang produksi beras sebanyak 446.097 ton. Angka ini menempatkan Jember di peringkat ketiga se-Jawa Timur, tepat di bawah Kabupaten Lamongan (508.126 ton) dan Kabupaten Bojonegoro (507.947 ton).
Meski berada di posisi ketiga secara provinsi, Jember mutlak memimpin sebagai yang tertinggi di kawasan Tapal Kuda. Selain itu, dari sisi luasan panen, Jember bertengger di urutan ketiga di Jawa Timur, sementara untuk tingkat produktivitas padi berada di peringkat ke-35.
Merespons capaian positif ini, Bupati Jember, Muhammad Fawait, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh elemen yang terlibat dalam pembangunan sektor agraria.
Melimpahnya hasil panen para petani Jember ini berbanding lurus dengan tingginya volume serapan gabah oleh Perum Bulog.
Atas keberhasilan mencetak angka serapan tertinggi di Jawa Timur tersebut, pria yang akrab disapa Gus Fawait ini memberikan penghargaan khusus kepada Bulog Jember serta jajaran TNI dan Polri yang ikut mengawal prosesnya. “Tingginya serapan gabah ini menjadi bukti nyata dari melimpahnya hasil produksi padi para petani di Jember,” ujar Gus Fawait, Rabu (10/6).
Demi menjaga tren positif ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember kini memperketat pengawasan distribusi pupuk bersubsidi, menyusul adanya penambahan kuota dari pemerintah pusat.
Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) telah diinstruksikan untuk memastikan penyaluran pupuk tepat sasaran. “Sanksi tegas juga disiapkan bagi pihak yang nekat melakukan pelanggaran distribusi,” tegasnya.
Keberhasilan Jember sebagai salah satu pilar pangan Jawa Timur disokong oleh sejumlah program strategis, di antaranya
Optimalisasi Lahan (Oplah) dan program pompanisasi, perbaikan infrastruktur irigasi secara berkala.
“Selain itu, perluasan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) bertambah 373,59 hektare pada tahun 2025. Tak kalah penting sinergi anggaran dengan pusat berupa kucuran bantuan senilai Rp 312 miliar untuk pengadaan benih, bibit, infrastruktur, hingga alat dan mesin pertanian (alsintan) modern,” pungkasnya. (*)






