KabarBaik.co, Bojonegoro – Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, memiliki ambisi besar menjadikan Kabupaten Bojonegoro sebagai produsen padi dengan produktivitas tertinggi di Indonesia pada 2028. Meski demikian, dia mengaku masih memiliki persoalan dalam merealisasikan ambisinya tersebut.
Ambisi menjadikan Bojonegoro sebagai daerah dengan produktifitas tertinggi di Indonesia dilontarkan saat menjalani kegiatan panen raya Varietas Gamagora 7 di Desa Bayemgede, Kecamatan Kepohbaru, Bojonegoro. Kegiatan panen raya ini merupakan hasil kolaborasi Pemkab Bojonegoro dengan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Wahono menjelaskan, produktivitas gabah kering giling (GKG) di Bojonegoro mencapai 10 ton per hektare. Angka tersebut dinilai menjadi potensi untuk peningkatan produksi berbasis inovasi benih dan tata kelola air.
“Pertanian adalah prioritas utama kami. Mimpi kami menjadikan Bojonegoro sebagai lumbung pangan nasional yang berkelanjutan. Hasil panen hari ini membuktikan bahwa inovasi teknologi benih dan manajemen air mampu meningkatkan kesejahteraan petani,” ujar Wahono.
Wahono telah mengidentifikasi empat tantangan utama pertanian di Bojonegoro, yakni persoalan air dan manajemen irigasi, serangan hama, kualitas bibit, serta keterbatasan alat pertanian. Dalam setahun terakhir Pemkab Bojonegoro telah membangun infrastruktur irigasi sepanjang 24.248 meter, melakukan normalisasi 23 embung, serta mengoptimalkan 16 titik irigasi pompa (irpom).
Langkah tersebut ditujukan untuk menjaga stabilitas produksi di tengah dinamika iklim. Data Dinas ketahanan pangan dan pertanian mencatat produksi padi Bojonegoro pada 2025 mencapai 886.443 ton, meningkat 176.916 ton atau 24,7 persen dibanding tahun sebelumnya. Tren positif tersebut diharapkan tetap terjaga, meski prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut 2026 sebagai tahun dengan pola cuaca normal, di mana curah hujan diprediksi tidak setinggi 2025.
Varietas Gamagora 7 yang telah di tanama oleh para petani di kecamatan Kepohbaru menjadi tumpuan dalam strategi peningkatan produktivitas. Benih ini dikembangkan oleh peneliti UGM dan telah resmi memperoleh Surat Keputusan (SK) Kementerian Pertanian pada 2023.
Gamagora merupakan singkatan dari Gadjah Mada Gogo Rancah, yang dirancang adaptif di dua kondisi lahan sekaligus, yakni lahan kering (gogo) dan lahan basah (rancah). Varietas ini juga diklaim tahan terhadap wereng batang cokelat biotipe 2, penyakit hawar daun bakteri patotipe III, serta penyakit blast. Selain itu, karakter rasa pulen yang diturunkan dari indukan rojolele menjadi nilai tambah tersendiri.
Pemkab Bojonegoro berharap tidak hanya menjadi lokasi demplot, tetapi memperoleh akses lisensi agar benih Gamagora 7 dapat diproduksi dan digunakan secara masif oleh petani lokal.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Dekan Bidang Kerja Sama Fakultas Pertanian UGM, Subejo, menyatakan komitmen kampus untuk memberikan lisensi terbatas (Benih Label Ungu) selama tiga tahun agar Bojonegoro mampu memproduksi benih secara mandiri. “Bojonegoro memiliki potensi besar melampaui produktivitas nasional jika varietas ini dimasifkan dengan pendampingan teknis yang konsisten,” ujarnya.
Dengan kombinasi inovasi benih, penguatan infrastruktur, dan manajemen pertanian modern, Pemkab optimistis target 2028 bukan sekadar ambisi, melainkan agenda strategis menuju swasembada pangan berkelanjutan. (*)






