‘Jiwa Jawa’ Menghidupkan Balai Pemuda Surabaya, Seni Rupa Jadi Ruang Merawat Tradisi

oleh -144 Dilihat
WhatsApp Image 2026 06 03 at 10.30.41 AM
Seorang pengunjung mengamati lukisan karya dari pada perupa (ist)

KabarBaik.co, Surabaya – Deretan lukisan beragam warna dan karakter memenuhi ruang Galeri Merah Putih di Kompleks Balai Pemuda Surabaya. Setiap karya seolah mengajak pengunjung berhenti sejenak, memperhatikan detail goresan kuas yang menyimpan cerita tentang perempuan, budaya, dan nilai-nilai Jawa yang terus hidup di tengah perkembangan zaman.

Pameran seni rupa bertajuk ‘Jiwa Jawa’ menjadi salah satu bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733.

Sebanyak 23 karya dari 22 perupa Surabaya dan sekitarnya dipamerkan, menghadirkan beragam tafsir artistik mengenai sosok perempuan Jawa beserta nilai budaya yang melekat di dalamnya.

Karya-karya tersebut berawal dari kegiatan On The Spot Lukis Model yang sebelumnya digelar di pelataran Alun-alun Kota Surabaya. Saat itu, para seniman melukis langsung dengan mengamati model yang merepresentasikan karakter dan pesona perempuan Jawa.

Dari proses observasi itulah lahir berbagai karya dengan pendekatan yang berbeda. Ada yang menampilkan sosok perempuan secara realistis, ada pula yang menerjemahkannya dalam bentuk ekspresif dan simbolik. Meski berbeda gaya, seluruh karya memiliki benang merah yang sama, yakni menghadirkan ruh budaya Jawa melalui bahasa visual.

Koordinator pameran sekaligus Art Director Surabaya ArtPro, Muit Arsa, mengatakan pameran ini menjadi wadah bagi para perupa untuk menampilkan hasil pengembangan karya yang telah mereka buat sebelumnya.

“Pameran ini merupakan presentasi hasil karya kegiatan On The Spot Lukis Model yang telah diikuti para perupa Surabaya dan sekitarnya.

Melalui pengamatan langsung terhadap model yang merepresentasikan karakter dan pesona perempuan Jawa, para seniman menuangkan interpretasi artistiknya ke dalam berbagai gaya, teknik, dan pendekatan visual yang beragam,” ujar Muit, Rabu (3/6).

Menurutnya, tema “Jiwa Jawa” dipilih bukan semata untuk menampilkan figur manusia. Lebih dari itu, para seniman berusaha menangkap nilai-nilai yang selama ini menjadi bagian dari budaya Jawa, mulai dari kelembutan, keteguhan sikap, kesederhanaan, hingga identitas budaya yang diwariskan lintas generasi.

Di tangan para perupa, nilai-nilai tersebut diterjemahkan ke dalam warna, bentuk, tekstur, dan komposisi yang beragam. Setiap lukisan menjadi ruang refleksi sekaligus cara para seniman memaknai kekayaan budaya Nusantara dari sudut pandang masing-masing.

Keberagaman gaya yang ditampilkan juga memperlihatkan dinamika seni rupa Surabaya yang terus tumbuh. Tidak ada karya yang benar-benar serupa. Setiap perupa menghadirkan karakter visualnya sendiri, namun tetap berpijak pada tema besar yang sama.

“Melalui pameran ini, kami ingin menghadirkan ruang apresiasi sekaligus memperkuat identitas budaya lokal. Seni rupa menjadi media untuk membangun dialog kreatif antara karya, seniman, dan masyarakat,” katanya.

Menariknya, seluruh karya yang dipamerkan berangkat dari aktivitas sederhana, yakni melukis bersama di ruang publik. Namun melalui proses kreatif yang panjang, karya-karya tersebut berkembang menjadi medium ekspresi yang sarat makna budaya.

Pengunjung pun diajak melihat bagaimana satu objek yang sama dapat melahirkan banyak perspektif berbeda. Dari satu sosok perempuan Jawa, muncul puluhan tafsir visual yang memperkaya cara pandang terhadap budaya itu sendiri.

Pameran “Jiwa Jawa” tidak hanya menjadi ajang menampilkan karya seni, tetapi juga ruang perjumpaan antara seniman dan masyarakat. Di tengah arus modernisasi yang semakin cepat, pameran ini menjadi pengingat bahwa budaya dapat terus hidup melalui berbagai medium, termasuk seni rupa.

Melalui perayaan HJKS ke-733, pameran tersebut sekaligus menegaskan posisi Surabaya sebagai kota yang terus memberi ruang bagi tumbuhnya kreativitas dan pelestarian budaya.

Bagi Muit, seni dan budaya merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling menjaga dan memberi makna satu sama lain.
“Seni adalah cara kita merawat ingatan budaya, dan budaya adalah jiwa yang memberi makna pada setiap karya,” pungkasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Irma Hari Trisiawardani
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.