KabarBaik.co, China – Pemerintah China membantah tuduhan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan bahwa Beijing telah mencampuri pemilu di AS.
“Tuduhan Amerika Serikat tidak memiliki dasar fakta dan bertujuan untuk menjelekkan China,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, kepada para wartawan di Beijing.
Trump pada Jumat menuduh bahwa sejak siklus pemilu 2020, China memperoleh 220 juta data pemilih AS, yang disebutnya sebagai “kompromi data pemilu terbesar dalam sejarah.”
Dalam pidato utama yang disiarkan secara nasional pada jam tayang utama, Trump mengumumkan deklasifikasi dokumen intelijen yang menurutnya menunjukkan adanya campur tangan asing secara luas serta kerentanan serius dalam sistem pemilu AS.
Namun, Lin mengatakan tuduhan serupa telah lama terbukti tidak berdasar.
“China berpegang teguh pada prinsip non-intervensi dalam urusan internal negara lain. China tidak tertarik untuk mencampuri pemilu Amerika Serikat dan tidak pernah melakukannya,” ujarnya.
Sebaliknya, Lin mempertanyakan “siapa yang selama ini secara sewenang-wenang mencampuri urusan dalam negeri negara lain, melakukan pengawasan tanpa pandang bulu terhadap pemerintah, bisnis, dan masyarakat di seluruh dunia dalam jangka waktu lama, serta membahayakan data warga negara lain dalam skala besar.
Amerika Serikat dijadwalkan menggelar pemilu paruh waktu pada November 2026.
Trump yang mengutip laporan CIA mengatakan, pada pertengahan 2018 saat masa jabatan pertamanya, Partai Komunis China memiliki kebijakan untuk “memanfaatkan seluruh elemen di dalam dan luar negeri” yang menentang Trump sebagai upaya mengurangi potensi perolehan suaranya pada pemilu 2020, mendorongnya mengundurkan diri, atau menggagalkan dirinya terpilih kembali. (*)




