Mengenal Duck Syndrome: Fenomena “Bebek Bahagia” yang Perlu Diwaspadai

oleh -163 Dilihat
Ilustrasi (Womanesia.id)

KabarBaik.co- Istilah “duck syndrome” mungkin terdengar asing, namun kondisi ini sebenarnya cukup sering dialami, terutama oleh kalangan muda. Duck syndrome merujuk pada kondisi dimana seseorang menampilkan citra diri yang terlihat bahagia dan baik-baik saja di depan orang lain, padahal di dalam hati mereka sedang berjuang menghadapi tekanan dan permasalahan.

Seperti bebek yang terlihat tenang mengambang di atas air, namun di bawah permukaan kakinya terus mendayung dengan kuat, para penderita duck syndrome berusaha terlihat baik-baik saja di depan umum, meski di dalam hati mereka sedang menghadapi berbagai masalah.

Para ahli menyebutkan beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami duck syndrome, diantaranya:

  • Tuntutan yang tinggi: Tekanan dari lingkungan, seperti tuntutan akademis, ekspektasi dari keluarga dan teman, serta tekanan sosial media, dapat membuat seseorang merasa terbebani dan tertekan.
  • Pola asuh helikopter: Orang tua yang terlalu protektif dan mengatur kehidupan anak secara berlebihan dapat membuat anak kesulitan mengatasi masalah secara mandiri, sehingga mereka cenderung menyembunyikan masalah yang dihadapi.
  • Perfeksionisme: Sikap perfeksionis yang tidak realistis dapat membuat seseorang terobsesi dengan kesempurnaan dan takut akan kegagalan, sehingga mereka enggan untuk menunjukkan kelemahan atau kekurangan mereka pada orang lain.
  • Peristiwa traumatis: Pengalaman traumatis di masa lalu, seperti pelecehan atau kehilangan orang terdekat, dapat membuat seseorang kesulitan untuk terbuka dan berbagi masalah dengan orang lain.
  • Self-esteem yang rendah: Rasa percaya diri yang rendah membuat seseorang merasa tidak berharga dan takut akan penilaian orang lain, sehingga mereka cenderung menyembunyikan perasaan dan masalah yang dihadapi.

Dampak yang ditimbulkan oleh duck syndrome tidak boleh dianggap remeh. Jika dibiarkan berlarut-larut, kondisi ini dapat memicu masalah kesehatan mental yang lebih serius, seperti depresi, kecemasan, bahkan gangguan makan.

Berikut beberapa tips yang dapat membantu seseorang yang berpotensi mengalami duck syndrome:

  • Belajar untuk menerima diri sendiri:┬áSadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna dan setiap orang pasti memiliki kekurangan.
  • Cari dukungan dari orang terdekat: Jangan takut untuk berbagi masalah dengan orang yang anda percaya, seperti sahabat, keluarga, atau terapis.
  • Fokus pada hal-hal positif: Berlatihlah untuk bersyukur atas hal-hal baik yang terjadi dalam hidup anda.
  • Jangan takut untuk meminta bantuan: Jika anda merasa kewalahan, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional dari psikolog atau terapis.

Dengan mengenali gejala dan penyebab duck syndrome, serta mengambil langkah-langkah untuk mengatasinya, kita dapat menjaga kesehatan mental dan emosional diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News


No More Posts Available.

No more pages to load.