NTP Jatim Naik 3,32% di Mei 2026, Harga Gabah hingga Cabai Dongkrak Daya Beli Petani

oleh -116 Dilihat
WhatsApp Image 2026 06 04 at 11.25.19 AM
Seorang petani sedang menanam padi (Ist)

KabarBaik.co, Surabaya – Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Mei 2026 mengalami kenaikan signifikan sebesar 3,32 persen dibandingkan bulan sebelumnya. NTP naik dari 116,46 pada April 2026 menjadi 120,33 pada Mei 2026.

Plt Kepala BPS Jawa Timur Herum Fajarwati mengatakan kenaikan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani (It) meningkat lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang dibayar petani (Ib)

“NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan,” kata Herum dalam rilis BPS Jawa Timur, Kamis (4/6).

Kenaikan NTP pada Mei 2026 didorong oleh meningkatnya indeks harga yang diterima petani sebesar 3,76 persen, dari 149,40 menjadi 155,02. Sementara itu, indeks harga yang dibayar petani hanya naik 0,43 persen dari 128,28 menjadi 128,83.

Secara subsektoral, tiga subsektor mencatat peningkatan NTP. Kenaikan tertinggi terjadi pada subsektor hortikultura yang melonjak 11,77 persen. Disusul subsektor tanaman pangan yang naik 2,67 persen dan subsektor peternakan sebesar 0,84 persen.

Sebaliknya, dua subsektor mengalami penurunan NTP. Subsektor tanaman perkebunan rakyat turun 1,05 persen, sedangkan subsektor perikanan terkoreksi 1,08 persen.

Peningkatan indeks harga yang diterima petani terutama ditopang oleh naiknya harga sejumlah komoditas strategis. Sepuluh komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap kenaikan harga yang diterima petani yakni gabah, cabai rawit, bawang merah, sapi potong, jagung, kambing, cabai merah, sapi perah, ketela pohon, serta kol atau kubis.

Di sisi lain, beberapa komoditas masih menekan pendapatan petani. Komoditas yang memberi andil terbesar terhadap penurunan indeks harga yang diterima petani antara lain telur ayam ras, kopi, tomat, ayam ras pedaging, jeruk, bandeng payau, telur puyuh, kentang, semangka, dan kacang tanah.

Sementara itu, kenaikan indeks harga yang dibayar petani dipengaruhi oleh meningkatnya biaya produksi dan konsumsi rumah tangga. Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) naik 0,50 persen dari 122,57 menjadi 123,19. Adapun Indeks Konsumsi Rumah Tangga (KRT) meningkat 0,33 persen dari 132,68 menjadi 133,11.

Komoditas yang paling berkontribusi terhadap kenaikan biaya yang ditanggung petani antara lain bawang merah, bakalan sapi umur di atas 12 bulan, cabai rawit, cabai merah, minyak goreng, beras, kacang panjang, ketimun, sigaret kretek mesin (SKM), dan sawi hijau.

Sebaliknya, sejumlah komoditas turut menahan kenaikan biaya yang dibayar petani, di antaranya telur ayam ras, tomat sayur, kelapa tua, jeruk, semangka, daging ayam ras, bawang putih, emas perhiasan, gula pasir, dan bayam.

Selain NTP, BPS juga mencatat Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Jawa Timur pada Mei 2026 meningkat 3,24 persen. Kenaikan tersebut terjadi karena indeks harga yang diterima petani naik 3,76 persen, sementara indeks BPPBM hanya meningkat 0,50 persen.

Kenaikan NTUP tertinggi juga terjadi pada subsektor hortikultura yang mencapai 11,59 persen. Selanjutnya subsektor tanaman pangan naik 2,65 persen dan subsektor peternakan tumbuh 0,58 persen. Adapun subsektor perikanan mengalami penurunan 1,09 persen dan subsektor tanaman perkebunan rakyat turun 0,90 persen.

Data ini menunjukkan kondisi kesejahteraan petani Jawa Timur pada Mei 2026 membaik, terutama ditopang oleh kenaikan harga komoditas pangan dan hortikultura yang lebih tinggi dibandingkan peningkatan biaya produksi maupun konsumsi rumah tangga petani. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Irma Hari Trisiawardani
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.