KabarBaik.co, Surabaya – Industri kopi nasional kini bukan lagi sekadar urusan komoditas konsumsi yang diseduh di cangkir. Sektor ini telah bermutasi menjadi motor penggerak utama ekonomi kreatif sekaligus simbol gaya hidup modern masyarakat urban.
Melihat potensi yang menjanjikan tersebut, Kota Surabaya dipilih menjadi titik awal rangkaian roadshow nasional ajang Indonesia Coffee Expo (ICX) 2026. Kota Pahlawan dinilai memiliki laju pertumbuhan ekosistem kopi urban yang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir.
Ajang yang mempertemukan para pelaku industri kopi ini menargetkan nilai transaksi yang cukup fantastis, yakni mencapai Rp 3 miliar. Tidak main-main, sebanyak 7.500 pengunjung yang terdiri dari investor, pelaku usaha, hingga konsumen akhir diproyeksikan bakal memadati area pameran.
Berbeda dengan pameran komoditas konvensional pada umumnya, gelaran kali ini menaruh perhatian besar pada ceruk pasar specialty coffee dan pemberdayaan pengusaha lokal. Dari total 75 merek yang berpartisipasi, sekitar 70 persen di antaranya merupakan pelaku UMKM serta kedai kopi independen asal Jawa Timur.
Vice Project Director ICX, Rumpoko Hadi, menjelaskan bahwa kopi kini telah bertransformasi menjadi ruang kreativitas baru yang membuka peluang bisnis dengan efek domino (multiplier effect) yang sangat besar bagi perekonomian.
“Kami sengaja memberikan panggung lebih luas bagi specialty coffee dan UMKM lokal agar mereka dapat naik kelas dan terhubung langsung dengan rantai pasok yang lebih masif,” ujar Rumpoko di Grand City Convention Hall, Surabaya, Sabtu (30/5).
Menariknya, pameran kopi ini digelar secara simultan dengan ajang otomotif tahunan Indonesia International Motor Show (IIMS) Surabaya 2026 di lokasi yang sama. Langkah taktis ini sengaja diambil penyelenggara untuk menciptakan sinergi lintas industri. Mereka membidik irisan pasar (market intersection) antara pencinta otomotif dan penikmat kopi, yang dinilai sama-sama memiliki profil daya beli tinggi.
Langkah ini pun mendapat sinyal positif dari pemerintah daerah. Plt Kepala Dinas Perkebunan Jatim Heru Suseno menyatakan dukungan penuhnya terhadap sinergi ini sebagai momentum strategis untuk memperkuat integrasi industri dari hulu ke hilir.
Saat ini, Jawa Timur kokoh berdiri sebagai produsen kopi terbesar keempat di Indonesia, berada di bawah Sumatera Selatan, Lampung, dan Sumatera Utara. Bahkan, produksi kopi regional Jatim diproyeksikan mampu menembus angka 78,8 ribu ton. Lonjakan produksi ini juga diimbangi oleh tingginya konsumsi domestik seiring menjamurnya kedai kopi hingga ke pelosok pedesaan.
Untuk memaksimalkan nilai tambah produk lokal, Pemprov Jatim tengah menggalakkan program Communal Branding dengan payung merek “Kopi Jawa Timur”.
Strategi ini diadopsi guna mempertegas identitas geografis dan karakteristik unik rasa kopi lokal. Salah satu fokus utamanya adalah varietas Arabika dari kawasan Ijen dan Raung, yang meliputi wilayah Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi.
Namun, untuk membangun sektor hilir industri kopi yang kompetitif, standardisasi kompetensi talenta juga mutlak diperlukan. Hal inilah yang mendorong diadakannya kompetisi Indonesia Brewers Cup (IBrC) Regional 1 di dalam rangkaian acara.
Ketua Umum Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI), Daryanto Witarsa, menegaskan bahwa kompetisi ini dirancang sebagai investasi jangka panjang untuk mencetak agen perubahan di industri kopi tanah aiir.
“Masa depan kopi Indonesia membutuhkan figur yang tidak hanya mumpuni secara teknis manual brew, tetapi juga mampu bertindak sebagai brand ambassador yang membawa diplomasi kopi Indonesia ke panggung internasional,” tutur Daryanto.
Selain urusan bisnis dan kompetisi serius, para pengunjung juga disuguhkan berbagai aktivitas interaktif. Salah satunya lewat ajang Coffee Frame Challenge, di mana para pencinta fotografi dapat mengabadikan momen-momen estetik terbaik sepanjang pameran untuk memperebutkan hadiah total jutaan rupiah. (*)






