KabarBaik,co- Akhir Agustus lalu menjadi momen yang tak akan dilupakan oleh Reno Surya Permana. Pemuda kelahiran Ponorogo, 20 Juni 2006 itu, berdiri tegak di atas panggung ajang World Skills ASEAN 2025 di Manila, Filipina. Di hadapan delegasi dari berbagai negara Asia Tenggara, ia menerima medali perunggu untuk bidang mechatronic (mekatronika).
Reno bukan sekadar siswa lulusan SMP Negeri 1 Ponorogo (2022) dan SMKN 1 Jenangan (2025). Ia juga aktif di organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Ranting Cekok, Babadan, Ponorogo. Aktivitas itu tidak membuatnya meninggalkan minatnya pada bidang keahlian yang rumit: kombinasi mekanik, elektronik, dan pemrograman.
“Prestasi ini membuktikan kemampuan teknis generasi muda Indonesia, khususnya di bidang mekatronika, telah diakui di level internasional,” ujar Reno, saat baru pulang dari Jakarta pada 3 September.
Ia menceritakan bagaimana jalan panjang menuju Manila penuh dengan latihan intensif. Simulasi ujian, latihan penyelesaian masalah teknis, hingga adaptasi dengan standar kompetensi ASEAN dijalani dengan serius. “Yang juga penting adalah dukungan mentor dan lembaga terkait, seperti IPNU. Selain itu, ada kolaborasi tim yang membuat saya lebih siap,” katanya.
Ketua PW IPNU Jawa Timur, Muhammad Rafli Rifki Reza, ikut mengapresiasi capaian tersebut. Baginya, Reno adalah contoh generasi muda NU yang membuktikan bahwa aktivitas organisasi dan prestasi akademik bisa berjalan beriringan. “Ini adalah kebanggaan bagi IPNU sekaligus bagi Ponorogo,” ucapnya di Surabaya.
Di ajang dua tahunan itu, Indonesia sendiri membawa pulang 28 medali: 9 emas, 1 perak, 9 perunggu, dan 9 diploma. Kompetisi ini merupakan kesepakatan antar Menteri Tenaga Kerja negara ASEAN untuk memperkuat kerja sama pelatihan, mempromosikan pendidikan vokasi, serta meningkatkan kualitas tenaga kerja muda di kawasan.
Reno kini menambah deretan anak muda Indonesia yang harum namanya di kancah internasional. Di balik medali perunggu itu, ada cerita tentang kerja keras, dukungan organisasi, dan tekad seorang pelajar daerah yang ingin membuktikan bahwa kesempatan berprestasi terbuka bagi siapa saja yang mau berjuang. (*)








