KabarBaik.co, Nganjuk – Dinginnya angin malam dan pekatnya kabut tidak menyurutkan langkah M. Bima Putra Khafiansyah asal Nganjuk. Bersama 2 teman sebayanya, ia menantang salah satu bentang alam paling menawan sekaligus menguji nyali di kawasan Kediri, Gunung Argo Kelono.
Perjalanan ini bukan sekadar tentang menaklukkan ketinggian, melainkan sebuah pembuktian tentang arti sebuah kebersamaan di alam liar.
“Rasa persaudaraan menjadi kunci menempuh tantangan medan ekstrem,” ungkap Bima, mengenang kembali bagaimana setiap jengkal tanah terjal dan jalur curam mereka lewati dengan saling mengulurkan tangan, Selasa (9/6).
Menuju puncak Argo Kelono yang berdiri gagah di ketinggian antara 1.700 hingga 1.740 meter di atas permukaan laut (mdpl) bukanlah perkara mudah.
Jalur pendakian yang menguras fisik menuntut konsentrasi penuh dari para pendaki muda ini. Namun, beratnya jalur seolah terdistraksi oleh tegasan papan kayu di sepanjang rute yang mengingatkan mereka pada hakikat mencintai alam.
Sebuah papan sambutan berdiri kokoh, menegaskan status tanah yang mereka pijak: Welcome to Mt. Argo Kelono 1700 MDPL. Lokasi ini merupakan tanah milik negara dalam pengelolaan KPH Kediri.
“Rasa lelah terbayar ketika mencapai puncak, melihat lautan awan dari puncak gunung membuat rasa syukur mendalam kepada Allah SWT. Tuhan Yang Maha Esa diberi karunia alam yang indah,” tutur Bima dengan mata berbinar, menggambarkan magisnya pemandangan di titik tertinggi.
Di puncak tertinggi, sebuah papan kecil tertancap di tanah bertuliskan “Puncak Argo Kelono 1740 MDPL”, menjadi saksi bisu keberhasilan tiga remaja tersebut.
Di balik pesona lautan awan yang bergulung memanjakan mata, Gunung Argo Kelono juga menitipkan pesan mendalam bagi siapa saja yang datang.
Melalui tulisan bersahaja namun menohok di papan sambutan “Buang sampahmu turun” dan “Jagalah alam” gunung ini seolah berbicara agar keindahannya tetap utuh untuk generasi mendatang.
Pulang dengan selamat adalah tujuan, tetapi membawa turun kembali sampah adalah kewajiban yang mutlak.







