KabarBaik.co – Keterbatasan armada pemadam kebakaran masih menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar. Hingga kini layanan pemadam kebakaran hanya ditopang oleh empat unit kendaraan untuk menjangkau wilayah yang cukup luas dengan karakter medan yang beragam.
Kondisi tersebut membuat petugas harus bekerja ekstra, terutama ketika terjadi kebakaran atau keadaan darurat di lebih dari satu lokasi secara bersamaan. Dengan jumlah armada yang ada, kecepatan dan jangkauan layanan masih perlu dioptimalkan.
Kasi Pemadaman, Penyelamatan, dan Sarana Prasarana Satpol PP dan Damkar Kabupaten Blitar, Tedi Prasojo, menjelaskan bahwa dari empat unit armada yang dimiliki, tiga unit merupakan mobil pemadam kebakaran dan satu unit berfungsi sebagai kendaraan suplai air. Sementara untuk personel, saat ini terdapat 32 anggota yang bertugas.
“Armada kami total ada empat unit, terdiri dari tiga unit pemadam dan satu unit suplai. Personel yang bertugas saat ini sebanyak 32 orang,” ungkap Tedi, (7/1).
Ia menilai jumlah tersebut belum sebanding dengan luas wilayah Kabupaten Blitar serta potensi kejadian kebakaran maupun operasi penyelamatan lainnya. Karena itu, penambahan armada dan personel terus diusulkan setiap tahun kepada pemerintah daerah.
Pada tahun ini, Damkar Kabupaten Blitar kembali mengajukan penambahan tiga unit armada baru. Usulan tersebut mencakup satu unit mobil pemadam kebakaran, satu unit suplai air, serta satu unit rescue yang difungsikan untuk penanganan evakuasi dan kondisi darurat non-kebakaran.
“Pengajuan kami rutin setiap tahun. Untuk tahun ini, yang diusulkan ada tiga armada, yakni unit pemadam, suplai, dan rescue,” jelasnya.
Kebutuhan penambahan armada juga didorong oleh belum tersedianya pos pemadam kebakaran di wilayah selatan Kabupaten Blitar. Selama ini, apabila terjadi kebakaran di kawasan tersebut, petugas masih harus bergerak dari markas komando utama dengan waktu tempuh yang relatif lebih lama.
“Wilayah selatan belum memiliki armada sendiri, sehingga kalau ada kejadian masih menunggu unit dari mako. Ini tentu memengaruhi kecepatan penanganan,” katanya. (*)








