KabarBaik.co, Pasuruan – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kota Pasuruan resmi menjalin kerja sama strategis dengan Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Kota Pasuruan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang berlangsung di Kantor PD Muhammadiyah Kota Pasuruan.
Kehadiran Ketua beserta Anggota Bawaslu Kota Pasuruan merupakan langkah taktis ini menjadi bagian dari komitmen bersama, untuk memperluas edukasi politik dan memperkuat fungsi pengawasan partisipatif di tengah masyarakat.
Ketua Bawaslu Kota Pasuruan Vita Suci Rahayu menyampaikan, bahwa kolaborasi ini berakar dari konsolidasi program Massive Open Online Course (MOOC) Literasi Demokrasi, kendati saat ini tengah menghadapi efisiensi anggaran dan berada di luar tahapan pemilu (non-tahapan), Bawaslu RI menginstruksikan seluruh jajaran di daerah untuk tetap aktif bergerak di masyarakat.
“Bawaslu berkomitmen menjadi pusat ilmu pengawasan dan konsolidasi demokrasi, melalui literasi demokrasi ini, kami menggandeng seluruh stakeholder untuk terlibat aktif serta bertukar pikiran mengenai kebijakan dan pengawasan demokrasi di Indonesia,” ujar Vita.
Ketua PD Muhammadiyah Kota Pasuruan, Ustadz Abu Nasir menyambut baik kelanjutan kerja sama ini, dengan menjelaskan poin-poin implementasi yang konkret menurutnya, gerakan literasi dan edukasi kepemiluan ini merupakan tanggung jawab bersama demi meningkatkan kualitas penegakan demokrasi di Indonesia dalam pemilu.
“Alhamdulillah akhirnya adanya kerjasama dalam pendidikan demokrasi, selanjutnya akan menjadi tanggung jawab bersama di masyarakat,” katanya.
Sebagai Organisasi Kemasyarakatan (Ormas), Muhammadiyah menyadari tidak memiliki kewenangan eksekutif penuh dalam pemilu, namun memiliki hak moral dan konstitusional yang kuat untuk mengontrol serta meluruskan kejanggalan yang terjadi di lapangan.
“Memang tidak memiliki kewenangan tetapi kita punya peran aktif unsur otonom ikut mensukseskan pemilu,” jelasnya.
Ustadz Abu Nasir juga menyoroti tantangan berat demokrasi saat ini, merujuk pada data survei yang menunjukkan sebesar 72,4 persen netizen dan masyarakat luas merasakan ketakutan terhadap situasi kebebasan berpendapat saat ini.
“Secara substansial, spirit kita sama ingin mengedukasi masyarakat mengenai demokrasi yang sehat. Melalui kerja sama ini, nantinya kita akan melakukan brainstorming kepada Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) untuk memperluas pengetahuan kepemiluan, termasuk menyasar lingkungan sekolah,” ungkap Ustadz Abu Nasir.







