USIANYA baru menginjak 18 tahun. Tapi, seorang Fauzan Nibras membuktikan bahwa talenta muda Indonesia tak lagi sekadar pelengkap.
Dalam laga dramatis AVC Men’s Volleyball Cup 2026, Senin (22/6) malam, opposite hitter kidal asal Pasundan itu meledak. Betapa tidak, 32 poin (28 attack, 3 block, 1 ace). Indonesia pun menaklukkan raksasa Qatar 3-2. Penampilan sensasional itu sekaligus membawa Timnas meraih kemenangan pertama di turnamen.
Nibras menjadi pendulang poin tertinggi sepanjang laga. Mengungguli seluruh pemain dari kedua tim. Bukan sembarang lawan. Di depan net, Nibras menghadapi salah satu middle blocker paling tangguh Asia, Belal Nabel Abunabot.
Pemain Qatar berusia 35 tahun dengan tinggi 200 cm itu dikenal sebagai “monster” pertahanan yang solid. Belal pernah terpilih sebagai Best Middle Blocker di Kejuaraan Asia dan menjadi andalan Qatar di berbagai ajang FIVB. Namun, malam itu, serangan kidal Nibras membuatnya seperti mati kutu.
Kidal Jadi Senjata Mematikan
Mayoritas blocker dunia terbiasa membaca pola serangan tangan kanan. Approach, ayunan lengan, hingga sudut bola dari spiker right-hander sudah seperti buku bacaan sehari-hari. Ketika bertemu Nibras yang kidal, semuanya berbalik. Sudut serangan cross-court-nya lebih tajam, timing arm swing-nya berbeda, dan visual cue yang biasa dibaca blocker jadi kacau. Hasilnya? Celah block membesar dan pertahanan Qatar kerap telat merespons.
“Dia (Nibras) fenomenal,” puji banyak pengamat seusai pertandingan. Dari bangku cadangan, Nibras sejatinya masuk menggantikan Agil Angga Anggara yang cedera. Seperti sengaja dikirim semesta, dia langsung menjadi game changer. Indonesia bangkit dari ketertinggalan dan memenangi pertarungan lima set yang begitu ketat plus menegangkan.
Kemenangan kali ini terasa istimewa dan bersejarah bagi Indonesia. Bahkan berasa seperti juara saja. Betapa tidak, Qatar memiliki skuad mayoritas berpengalaman. Mereka sudah sangat solid dengan banyak pemain hasil naturalisasi yang memperkuat tim. Secara ranking FIVB, Qatar berada di urutan 22 dunia, sementara Indonesia masih di posisi 52. Meski demikian, Timnas Indonesia sukses mengalahkan Qatar 3-2 dalam pertandingan yang penuh perjuangan dan emosional.
Latar Belakang Sang Game Changer
Lahir pada 31 Mei 2008, Fauzan Nibras tingginya 189-190 cm dengan spike height mencapai 340 cm. Ia mulai menonjol sejak usia remaja melalui klub Pasundan dan Jakarta Garuda Jaya, sebelum akhirnya masuk skuad senior. Masih mahasiswa FISIP Universitas Pasundan. Karena itu, mesti menyeimbangkan antara kuliah dan karier atlet.
Kelebihan utamanya bukan hanya power, tapi juga mentalitas. Humble di luar lapangan, tapi garang dan disiplin di dalam. Penggemar yang pernah bertemu dengannya kerap memuji sikapnya yang rendah hati.
Penampilan gemilang melawan Qatar bukan kebetulan semata. Nibras mewakili gelombang baru pevoli Indonesia yang lebih tinggi, lebih atletis, dan punya variasi teknik langka seperti spiker kidal. Di tengah persaingan Asia yang ketat, kehadirannya bersama talenta muda lain memberi harapan baru bagi Timnas yang sedang membangun kekuatan menuju target-target lebih tinggi.
Bagi Belal Nabel Abunabot, pertandingan malam itu mungkin hanya salah satu laga keras di karier panjangnya. Tapi bagi Fauzan Nibras, momentum itu seperti sebuah deklarasi bahwa skuad muda siap mengguncang panggung voli Asia, asal terus mendapat atensi serius.
Masih panjang perjalanan, tapi satu hal sudah jelas. Nama Fauzan Nibras mendatang tampaknya semakin sulit untuk diabaikan dan tidak jadi pusat. perhatian. Tetap membumi, terus jaga api konsistensi. (*)






