KabarBaik.co, Sidoarjo – Peresmian Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) secara simbolis telah dilakukan oleh Prabowo Subianto pada Mei lalu. Namun, di Kabupaten Sidoarjo, sebagian besar koperasi masih dalam tahap pengembangan dan belum seluruhnya beroperasi secara maksimal.
Dari hasil pantauan di lapangan, hanya beberapa koperasi yang sudah berjalan. Di antaranya KKMP Magersari, Kecamatan Sidoarjo dan KDMP Kupang, Kecamatan Jabon. Selain itu, terdapat KDMP Bungurasih yang telah berdiri sejak 2021, jauh sebelum program Koperasi Merah Putih dicanangkan secara nasional.
Salah satu penjaga KDKMP Magersari, Jumiah, 44, menjelaskan bahwa keterbatasan lahan menjadi kendala utama. Saat ini koperasi masih menempati kantor kelurahan sehingga ruang penyimpanan barang sangat terbatas dan belum memungkinkan untuk menyediakan stok dalam jumlah besar.
“Gak sampai banyak, karena lahan di sini kecil. Tapi setidaknya masih ada terus,” ujar Jumiah, Selasa (9/6).
Meski demikian, koperasi tetap menyediakan berbagai kebutuhan pokok dengan harga yang diklaim lebih murah dibanding harga pasaran. Untuk minyak goreng, Sania atau Sanko ukuran 2 liter sempat dijual Rp 41 ribu sebelum stok habis.
Sebagai pengganti, tersedia minyak goreng Kunci Mas Rp 18 ribu per liter dan Minyakita Rp 18 ribu per liter atau sekitar Rp 38 ribu untuk kemasan 2 liter.
Selain itu, beras Bulog SPHP ukuran 5 kilogram dijual Rp 59 ribu. Gula curah dibanderol Rp 17 ribu per kilogram, sedangkan gula premium merek Gulaku dijual Rp 18 ribu per kilogram.
Untuk telur ayam Omega, koperasi menjual seharga Rp 29 ribu per kilogram, lebih murah dibanding harga pasaran yang mencapai sekitar Rp 31 ribu per kilogram.
Jumiah menegaskan bahwa dirinya hanya bertugas melayani penjualan, sementara penentuan harga dan pengadaan barang dilakukan oleh pengurus koperasi.
“Nanti kan sing nentukan situ sih, saya kan petugase. Dari sini hargae dijual segini-segini gitu. Lek kulak-kulakan ya ketua sih, Mas. Lek saya bagian penjualan,” katanya.
Sementara itu, KDMP Bungurasih juga masih beroperasi dengan memanfaatkan Balai RW 5 karena belum memiliki bangunan sendiri. Meski fasilitasnya sederhana, koperasi tersebut telah melayani kebutuhan masyarakat dan warung-warung mitra di sekitar desa.
Untuk produk air mineral galon maupun dus merek Aqua, KDMP Bungurasih menjual Rp 22 ribu kepada konsumen akhir dengan layanan antar ke rumah. Sedangkan untuk warung mitra, harga yang diberikan sebesar Rp 19 ribu per galon sehingga masih memberikan ruang keuntungan bagi pedagang kecil.
Persoalan yang masih menjadi tantangan adalah harga LPG 3 kilogram. Kepala KDMP Bungurasih Sukamto, mengungkapkan bahwa harga pasokan yang diterima dari Pertamina mencapai Rp 16.250 per tabung, sementara harga di tingkat pangkalan berada di kisaran Rp 16 ribu. Kondisi itu membuat target penjualan Rp 16 ribu seperti yang sempat ramai dibicarakan sulit direalisasikan.
“Pertamina itu ngasih harga saya Rp 16.250. Pangkalan Rp 16 ribu. Lha ya, aku dodolane Rp 20 ribu kepada pengguna. Tapi saya juga tidak mau mematikan usaha warungnya orang-orang. Warung yang bermitra dengan koperasi saya kasih harga Rp 18 ribu, jadi mereka masih ada untung. Jadi saya berbagi keuntungan dengan mereka,” pungkas Sukamto.
Kehadiran Koperasi Merah Putih memang mulai memberi alternatif bagi masyarakat untuk mendapatkan sejumlah kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau. Namun untuk LPG 3 kilogram, janji harga Rp 16 ribu yang sempat digaungkan belum tercermin di lapangan.
Selama harga yang diterima warga masih sama dengan harga pasaran, klaim LPG murah melalui Koperasi Merah Putih masih menyisakan tanda tanya.(*)






