KabarBaik.co, Jombang – Menjelang pelaksanaan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), ratusan santri Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, mendapat pembekalan tentang kepemimpinan, kolaborasi, dan pentingnya menuntut ilmu dari dua tokoh NU, Senin (20/7) dini hari.
Pembekalan disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng sekaligus Ketua PWNU Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), bersama Ketua Umum PP Majelis Alumni IPNU, Prof KH Asrorun Niam Sholeh, dalam kegiatan silaturahmi yang dirangkai dengan nonton bareng final Piala Dunia antara Spanyol dan Argentina di Ribath Al Lathifiyah 2 dan Al Wahabiyah 1, Pesantren Tambakberas.
Mewakili Pengasuh Ribath Al Lathifiyah 2, Hj. Mundjidah Wahab, H. Mujtahidur Ridho (Gus Edo) mengatakan, kegiatan tersebut menjadi kesempatan berharga bagi santri untuk menyerap pengalaman dan nasihat para ulama, terlebih Tambakberas tengah bersiap menjadi tuan rumah Muktamar ke-35 NU.
“Momentum ini menjadi kesempatan bagi santri untuk menyerap pengalaman dan nasihat dari para ulama, terlebih Tambakberas tengah bersiap menjadi tuan rumah Muktamar ke-35 NU,” ujar Gus Edo.
Dalam paparannya, Prof Asrorun Niam Sholeh mengajak para santri memanfaatkan masa muda untuk terus belajar dan meningkatkan kapasitas diri. Menurutnya, usia muda merupakan waktu terbaik untuk mengejar cita-cita karena kesempatan masih terbuka luas.
Ia juga menilai sepak bola mengajarkan sportivitas, kerja sama, dan saling menghormati meski berada dalam persaingan. Nilai tersebut, kata dia, sejalan dengan semangat Nahdlatul Ulama yang mengedepankan ukhuwah dan kolaborasi.
“Organisasi besar hanya dapat tumbuh jika dibangun melalui kerja sama, bukan dengan mempertajam perbedaan,” katanya.
Sementara itu, Gus Kikin mengajak para santri memandang sepak bola bukan sekadar hiburan, melainkan media belajar tentang disiplin, tanggung jawab, dan kerja tim.
Menurutnya, sebuah tim hanya bisa meraih kemenangan ketika setiap anggotanya memahami peran dan mengutamakan kepentingan bersama. Nilai itu, lanjutnya, penting diterapkan santri saat berorganisasi maupun mengabdi kepada masyarakat.
Menjelang Muktamar ke-35 NU, Gus Kikin berharap para santri memanfaatkan kehadiran ulama dan kiai dari berbagai daerah untuk memperluas wawasan serta mengambil keberkahan ilmu.
“Pesantren harus tetap menjaga tradisi baik, sekaligus terbuka terhadap perkembangan zaman agar lulusannya mampu menjawab tantangan masyarakat modern,” pungkasnya.






