Kebo-keboan Alasmalang, Simbol Agraria Banyuwangi yang Tetap Lestari Ratusan Tahun

oleh -412 Dilihat
IMG 20260628 WA0142
Warga berdandan layaknya kerbau saat menjalani ritual Kebo-keboan Alasmalang. (Foto: Calvin BT) 

KabarBaik.co, Banyuwangi – Ribuan warga memadati Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, Minggu (28/6). Mereka datang untuk menyaksikan tradisi adat Kebo-keboan.

Rituap Kebo-keboan Alasmalang merupkan ritual tahunan. Ritual dipercaya bermula dari kisah Buyut Karti pada abad ke-18 yang mendapat wangsit untuk menggelar bersih desa dengan cara menjelma menjadi kerbau sebagai simbol kesuburan dan kesejahteraan masyarakat.

Hingga kini ritual ini lestari digelar dan menjadi wujud syukur masyarakat agraris sekaligus doa agar tanah tetap subur dan hasil panen melimpah.

Rangkaian acara diawali dengan kenduri desa berupa makan bersama dengan sajian tumpeng dan kuliner khas Banyuwangi, Pecel Pithik. Setelah itu, puluhan peserta yang berperan sebagai “kerbau” mengikuti prosesi ider bumi mengelilingi desa dari empat penjuru mata angin.

Peserta Kebo-keboan bukanlah kerbau sungguhan, melainkan warga yang berdandan menyerupai hewan tersebut. Tubuh mereka dilumuri jelaga hingga berwarna hitam, dilengkapi atribut tanduk di kepala serta gelang kerincing di tangan dan kaki.

Dalam prosesi tersebut, para “kerbau” bergerak layaknya hewan yang sedang membajak sawah, berkubang di lumpur, hingga berguling-guling di sepanjang jalur arak-arakan.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan Kebo-keboan menjadi bagian dari kultur masyarakat agraris yang terus dijaga lintas generasi.

“Tradisi ini telah berlangsung ratusan tahun. Apresiasi kepada sesepuh adat, budayawan, pemuda Alasmalang dan semua yang menjaga nyala tradisi tetap hidup,” ujar Ipuk.

Menurutnya, Kebo-keboan bukan hanya ritual budaya, tetapi juga mengandung nilai gotong royong, kerja keras, dan disiplin yang menjadi karakter masyarakat.

“Nilai ini sesuai dengan semangat Banyuwangi tandang bareng, kerja bersama, tumbuh bersama,” katanya.

Tradisi yang telah berlangsung sejak abad ke-18 Masehi itu juga menarik perhatian wisatawan mancanegara. Lara, wisatawan asal Amerika Serikat, mengaku kagum melihat keunikan ritual tersebut.

“Ini sangat unik. Saya belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya. Menakjubkan,” ujarnya.

Selain menjadi atraksi budaya, pelaksanaan Kebo-keboan turut membawa dampak ekonomi bagi warga sekitar. Siti, salah satu pemilik warung di sekitar lokasi acara, mengaku dagangannya ramai diserbu pengunjung.

“Mulai minuman, camilan, semuanya laris, Alhamdulillah,” katanya. (*) 

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Muhammad Ikhwan
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.