KabarBaik.co, Gresik – Sajian makanan enak nan lezat saat lebaran atau Idul Fitri besok jangan sampai membuatmu kalap. Jika berlebihan, risiko penyakit seperti strok dan yang lain akan mengancam.
Bagaimana cara kita mengenali gejala strok sehingga bisa mengurangi resiko kecacatan atau meninggal pada sanak atau handai taulan ketika berhari raya Idul Fitri.
Dokter spesialis saraf RSUD Ibu Sina dr Heri Munajib mengatakan setidaknya untuk mengenali gejala strok sejak dini ada metode BEFAST yang lazim kita gunakan. Begini penjelasannya,
Balance: Kehilangan keseimbangan dan terasa pusing seperti di ombang-ambing di dalam kapal laut atau melihat dunia terasa terbolak balik yang mendadak.
Eyes: Pandangan kabur atau buram hingga pandangan mata menjadi ganda (dobel) yang lazim kita sebut diplopia yang mendadak
Face: Wajah tampak tidak simetris atau merot antara kanan kiri tidak sama atau kesemutan setengah wajah yang mendadak
Arms: Lengan dan kaki sebagai anggota gerak lemas, sulit digerakkan atau kesemutan setengah tubuh yang mendadak
Speech: Kesulitan berbicara, bicara tidak jelas atau pelo yang mendadak
Time: Jika mengalami gejala tersebut, segera cari pertolongan medis, karena bagi dokter spesialis neurologi waktu adalah otak.
Jika menemukan seseorang dengan gejala BEFAST seperti di atas, segera bawalah ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS terdekat agar segera mendapatkan penanganan medis yang cepat dan tepat sehingga memperkecil resiko kecacatan hingga meninggal dunia.
“Tren penyakit stroke saat hari raya dari tahun ke tahun selalu meningkat. Dan tercatat pasien terkena stroke justru umurnya semakin muda dengan banyak faktor yang mempengaruhi kenapa orang yang lebih muda bisa terjadi stroke,” ujar dr Heri, Sabtu (14/3).
Dr Heri mengatakan stroke merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah kesehatan global penyebab kecacatan dan kematian di dunia, terutama di Indonesia. Prevalensi stroke di Indonesia berdasarkan Riset Dasar Kesehatan (Riskesdas) 2013 tercatat sebesar 12,1 persen dengan provinsi tertinggi adalah Sulawesi Selatan (17,9 persen). Dari Riskesdas juga diketahui, 1 dari 3 orang berusia 45 tahun ke atas di Indonesia ditemukan mengidap stroke.
“Penyakit stroke terbagi menjadi dua jenis, yaitu stroke pendarahan dan stroke sumbatan. Sekitar 70-80 persen pasien mengalami stroke sumbatan, yang penyebabnya bisa dikategorikan ke dalam faktor risiko yang dapat dihindari dan tidak dapat dihindari,” tandas dr Heri. (*)








