KabarBaik.co – Inisiatif digitalisasi pendidikan, alih-alih menjadi solusi pemerataan, justru berpotensi menciptakan jurang ketidakadilan baru, memisahkan pelajar di pusat kota dengan mereka yang berada di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal).
Menyikapi urgensi ini, Hani Rizki Maulida, mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Jember (Unej), menawarkan inovasi konkret berbasis sistem hybrid.
Gagasannya tertuang dalam esai berjudul Digitalisasi Pendidikan Antara Jembatan Inovasi atau Jurang Ketidakadilan?, yang sukses meraih Juara 3 dalam Lomba Esai Nasional yang diselenggarakan Logaritma FMIPA Universitas Udayana.
Hani menyoroti bahwa kebijakan digitalisasi saat ini belum menyentuh akar masalah di pelosok, yakni minimnya akses internet stabil dan rendahnya kompetensi digital.
“Sebagai calon pendidik, saya melihat adik-adik di daerah terpencil tertinggal bukan karena kemauan, tetapi karena keterbatasan geografis dan ekonomi. Teknologi seharusnya menjadi jembatan, bukan penghalang,” tegas Hani, Sabtu (6/12).
Untuk menjembatani ketimpangan tersebut, Hani mengusung inovasi Mobile Learning Environment System (MLES). Konsep ini merupakan modifikasi sistem hybrid semi offline-online, terinspirasi dari praktik yang pernah diterapkan di Malaysia.
Fokus utama MLES adalah konten digital dapat diakses dan disinkronkan secara fleksibel, meminimalkan ketergantungan pada koneksi internet yang stabil. Menyediakan modul dan pelatihan yang fokus pada peningkatan kemampuan literasi dan kompetensi digital, baik untuk guru maupun siswa di daerah 3T.
“Dan memastikan teknologi berfungsi sebagai alat pemerataan, selaras dengan tujuan SDGs poin 4 (Pendidikan Berkualitas) dan rekomendasi global OECD 2023,” paparnya.
Prestasi ini menjadi cerminan ekosistem akademik Unej yang mendorong mahasiswa untuk peka terhadap masalah sosial dan berani menawarkan solusi inovatif berbasis riset.
Hani berharap, MLES dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemangku kebijakan untuk mewujudkan digitalisasi pendidikan yang benar-benar inklusif bagi seluruh anak Indonesia. (*)







