KabarBaik.co, Blitar – Sekolah Rakyat (SR) di Kota Blitar bakal memiliki peran lebih besar dibanding sekadar melayani siswa dari wilayah sendiri. Pada tahap awal operasional yang dijadwalkan berlangsung Juli atau Agustus mendatang, sekolah berbasis asrama tersebut juga akan menampung sekitar 150 siswa dari Kota Batu dan Kota Malang.
Kepala Dinas Sosial Kota Blitar, Ika Atikah menjelaskan, kebijakan tersebut merupakan keputusan dari Kementerian Sosial (Kemensos) yang dituangkan dalam surat resmi pada Mei lalu. Dalam skema tersebut, siswa dari daerah yang masih menjalankan program Sekolah Rakyat rintisan akan sementara waktu belajar di Kota Blitar.
“Ada 90 siswa jenjang SMP dari Kota Batu dan sekitar 60 siswa dari Kota Malang yang akan dititipkan di Sekolah Rakyat Kota Blitar. Jadi totalnya sekitar 150 siswa,” jelas Ika, Rabu (3/6).
Menurut Ika, status mereka merupakan siswa dari sekolah rintisan. Berbeda dengan Kota Blitar yang sedang menyiapkan gedung permanen, sejumlah daerah lain masih memanfaatkan fasilitas sementara milik Kemensos maupun Dinas Sosial Provinsi.
Meski akan menerima siswa dari luar daerah, Ika memastikan hal itu tidak akan mengurangi hak calon peserta didik asal Kota Blitar. Sebab seluruh kebutuhan pendidikan dan operasional Sekolah Rakyat ditanggung pemerintah pusat melalui APBN.
“Semua kebutuhan siswa ditanggung pemerintah pusat, mulai seragam, alat tulis hingga biaya operasional sekolah,” ujarnya.
Ia menambahkan, siswa dari Kota Batu dan Kota Malang nantinya hanya belajar sementara di Kota Blitar. Setelah pembangunan fasilitas Sekolah Rakyat di daerah asal mereka selesai, para siswa tersebut akan kembali. “Kalau gedung di daerah asal sudah siap, mereka akan ditarik kembali ke daerah masing-masing,” imbuhnya.
Sementara itu, proses penjaringan calon siswa asal Kota Blitar terus berlangsung. Saat ini pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) masih melakukan penjangkauan terhadap sekitar 1.700 sasaran untuk memenuhi kuota awal sebanyak 270 siswa, masing-masing 90 siswa jenjang SD, SMP, dan SMA.
Menurut Ika, tantangan terbesar saat ini justru datang dari sebagian orang tua yang masih ragu melepas anaknya tinggal di asrama. Padahal konsep boarding school yang diterapkan Sekolah Rakyat dirancang untuk membentuk karakter, kemandirian, dan meningkatkan peluang anak keluar dari lingkaran kemiskinan.
“Kami terus memberikan pemahaman kepada orang tua bahwa program ini disiapkan untuk masa depan anak. Tetap ada masa libur sehingga mereka bisa pulang dan bertemu keluarga,” pungkasnya. (*)






