KabarBaik.co, Jombang- Kabar membanggakan datang dari Pondok Pesantren (PP) Tebuireng. Sebanyak 30 santri dari berbagai unit pendidikan berhasil menembus Universitas Al-Azhar Mesir pada tahun 2026, salah satu perguruan tinggi Islam tertua dan paling bergengsi di dunia. Prestasi ini jadi bukti, tradisi pendidikan pesantren mampu melahirkan generasi yang siap bersaing di kancah internasional.
Bidang Pembinaan Pendidikan PP Tebuireng dalam keterangannya, melaporkan bahwa 26 santri yang diterima di Universitas Al-Azhar berasal dari tiga unit pendidikan utama di lingkungan Tebuireng. Rinciannya, 17 santri berasal dari MA Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng, tujuh santri dari SMA A. Wahid Hasyim Tebuireng, dan dua santri dari MA Sains Tebuireng Putri Kesamben.
Kepala MA Sains Tebuireng, A. Rofiq menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas keberhasilan dua santri terbaik dari lembaga yang dipimpinnya. “Alhamdulillah, kami panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya. Kami keluarga besar Madrasah Aliyah Sains Tebuireng merasa sangat bangga dan bersyukur atas prestasi dua santri terbaik yang diterima Universitas Al-Azhar Mesir,” ujarnya.
Menurut Rofiq, capaian tersebut bukan hanya membanggakan keluarga, madrasah, dan Pesantren Tebuireng Putri Kesamben, tetapi juga menjadi inspirasi bagi seluruh santri untuk terus bersemangat menuntut ilmu, terutama dalam pendalaman ilmu diniyah dan penguasaan bahasa Arab.
Dia menegaskan, keberhasilan para santri menjadi bukti bahwa kesungguhan, kedisiplinan, dan doa mampu mengantarkan seseorang meraih cita-cita besar. “Universitas Al-Azhar dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan Islam tertua dan paling bergengsi di dunia,” ungkapnya.
Kesempatan belajar di sana, lanjut dia, tentu merupakan amanah besar yang harus dijaga dengan sungguh-sungguh. ”Kami mengucapkan terima kasih kepada para ustadz, ustadzah, pembina, orang tua, dan semua pihak yang telah mendampingi para santri hingga mencapai titik ini,” kata Rofiq
Rofiq berharap santri bersangkutan diberikan kemudahan, kesehatan, dan keberkahan selama menempuh pendidikan di Mesir. Ia juga berharap mereka kelak tumbuh menjadi ulama dan generasi penerus yang membawa manfaat bagi umat, bangsa, dan agama.
Rasa syukur turut disampaikan salah satu santri MA Sains Tebuireng yang berhasil lolos, Masyfiyyah Nur Aini. Baginya, diterima di Universitas Al-Azhar bukan sekadar pencapaian akademik, melainkan amanah besar yang harus dijaga. ”Mnurut saya pribadi, ini bukan hanya sekadar pencapaian akademik, tetapi juga amanah besar yang harus saya jaga. Perjalanan menuju semua itu penuh dengan doa, usaha, pengorbanan, dan kesabaran yang tidak mudah,” ungkapnya.
Aini menilai peran orang tua menjadi faktor penting dalam keberhasilannya. Keridaan dan doa mereka menjadi kekuatan yang mengiringi setiap proses perjuangan yang dijalani. “Setiap tantangan menjadi pengingat bahwa hasil terbaik datang kepada mereka yang terus berusaha dan tidak mudah menyerah. Kelolosan ini bukan akhir dari perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar,” tambahnya.
Hal senada disampaikan santri SMA A. Wahid Hasyim Tebuireng, Mohammad Saifan Ibrahim. Dia berharap kesempatan belajar di Mesir dapat menjadi jalan untuk memperluas wawasan keilmuan sekaligus memperbaiki kualitas diri.
“Harapan saya, pertama, saya mampu mengeksplorasi dunia akademik Mesir dan seluruh keilmuan yang ada. Kedua, saya mampu menata diri untuk mencapai tingkatan insan kamil. Ketiga, saya mampu membanggakan orang tua, keluarga, guru-guru, sahabat, almamater, dan seluruh orang yang saya cintai,” katanya.
Saifan juga berharap Allah SWT senantiasa membimbing, memberkahi, dan menjaganya dalam perjalanan yang menurutnya bukan hanya perjalanan akademik, tetapi juga perjalanan spiritual sebagai seorang pencari ilmu. “Saya yakin semua ini tidak semata-mata terjadi karena takdir, melainkan karena arahan dan kasih sayang-Nya dalam rangkaian panjang proses sebagai murid kehidupan,” ujarnya. (*)








