Menjaga Warisan Leluhur di Punden Tua Barengan, Saat Sesaji, Jaranan, dan Rasa Syukur Menyatu

oleh -93 Dilihat
Penampilan Kesenian Jaranan Manggolo Putro saat menyemarakkan acara Nyadran dan Bersih Desa di punden tua Dusun Barengan, Desa Kaloran, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk.
Penampilan Kesenian Jaranan Manggolo Putro saat menyemarakkan acara Nyadran dan Bersih Desa di punden tua Dusun Barengan, Desa Kaloran, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk.

KabarBaik.co, Nganjuk – Bau harum kemenyan membumbung tipis di udara, membungkus riuh rendah alunan gamelan di kawasan punden tua Dusun Barengan, Desa Kaloran, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk.

Di tengah arus modernisasi yang kian deras mengikis budaya lokal, ratusan warga berkumpul untuk merawat ingatan leluhur lewat ritual tahunan Nyadran dan Bersih Desa pada Sabtu (25/7).

Ritual ini dipandang bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan wahana perenungan mendalam atas segala nikmat kehidupan.

“Bersih desa ini bukan sekadar perayaan rutin. Ini adalah simbol rasa syukur atas limpahan nikmat, rezeki, keselamatan, hingga ketentraman hidup yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Bahkan saat duka menyapa pun, masih terlalu banyak nikmat yang pantas kita syukuri,” tutur Bopo, salah satu sesepuh Dusun Barengan.

Kehadiran pementasan tari Jaranan Manggolo Putro menjadi ruh utama dalam perhelatan sakral tersebut. Bagi masyarakat Dusun Barengan, derap langkah para pembarong dan penari jaranan bukan sekadar hiburan visual, melainkan media spiritual yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Antusiasme terpancar dari seluruh lapisan masyarakat mulai dari anak-anak hingga kelompok lansia yang berjejal memadati lokasi punden.

Semangat kebersamaan warga terpancar jelas sepanjang prosesi berlangsung tanpa membeda-bedakan latar belakang.

“Acara ini diikuti seluruh warga tanpa terkecuali. Karena berlangsung setiap tahun, antusiasme masyarakat selalu besar. Ini adalah cara kami di Dusun Barengan untuk terus menjaga dan melestarikan tradisi Jawa yang kini mulai langka dan ditinggalkan secara turun-temurun,” tambah Bopo.

Selain menjadi sarana ungkapan syukur, momen sakral ini dimanfaatkan sebagai pilar untuk mempererat tali silaturahmi budaya sekaligus ukhuwah Islamiyah antar warga.

Deretan tumpeng dan sesaji yang disajikan di punden tua disiapkan sebagai bentuk penghormatan setinggi-tingginya bagi para cikal bakal atau tokoh babat alas yang mendirikan desa di masa lalu.

Menghargai jasa para pendiri desa dipandang sebagai fondasi penting agar generasi penerus tidak kehilangan jati diri dan akar sejarahnya.

“Tradisi leluhur mengajarkan kita untuk tidak lupa pada akar sejarah. Mengenang jasa para pendiri desa lewat Nyadran adalah cara kami menghargai kehidupan yang kita nikmati hari ini,” pungkas Bopo menutup perbincangan.

Kemeriahan ritual yang berlangsung hingga siang hari ini menjadi bukti nyata bahwa di salah satu sudut Kabupaten Nganjuk, kearifan lokal tetap hidup dan berdenyut kencang, menolak punah ditelan sang waktu.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Agus Karyono
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.