KabarBaik.co, Nganjuk – Aroma wangi kemenyan dan semerbak bunga berpadu selaras dengan kepulan asap dari ratusan tumpeng yang berjajar rapi di area Makam Mbah Panji di Dusun/ Desa Kepanjen, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk, terasa begitu khidmat namun bersahaja.
Ratusan warga tampak berkumpul dan duduk bersila melingkari sesaji dalam ritual tahunan Nyadran atau Bersih Desa yang telah mengakar selama ratusan tahun.
“Agenda ini sudah menjadi tanggung jawab juga sudah tradisi atau adat warga kami,” ujar Kepala Desa Kepanjen, Sugeng Purnomo, di sela-sela prosesi ritual. Jumat Legi, (3/7).
Bagi masyarakat setempat, Nyadran bukan sekadar rutinitas kalender tahunan. Ritual sakral ini merupakan bentuk sujud syukur sekaligus ikatan batin dengan leluhur atas perjuangan Mbah Panji, sosok babat alas (pendiri desa) yang berhasil mempertahankan wilayah tersebut hingga tegak berdiri menjadi Desa Kepanjen seperti sekarang.
Setelah doa-doa keselamatan dipanjatkan, berkat tumpeng kemudian dibagikan sebagai simbol sodakohan (sedekah) antar-warga.
“Bukan cukup shodakohan atau tumpengan saja, Desa Kepanjen punya kelangenan sendiri, yaitu langen bekso atau tayub,” ucap Sugeng Purnomo, yang juga menjabat sebagai Ketua Persaudaraan Kepala Desa Indonesia (PKDI) Nganjuk.
Suasana sakral pun perlahan berganti menjadi meriah saat alunan gamelan mulai bertalu-talu memecah keheningan Dusun Kepanjen
Inilah momen yang paling dinanti: pergelaran Langen Bekso atau seni Tayub. Bagi Desa Kepanjen, kehadiran penari Tayub bukanlah hiburan sembarangan, melainkan klangenan atau kesukaan khusus dari sang leluhur, Mbah Panji, yang wajib dihadirkan setiap bersih desa di Jumat Legi.
“Semoga setelah melaksanakan nyadran atau bersih desa, warga semuanya diberi rezeki yang melimpah, sehat semua, guyub, rukun, dan sukses, serta Desa Kepanjen tetap Tanggap, Tangguh, Tanggon,” harap Sugeng Purnomo menutup perbincangan.
Melalui perpaduan antara doa, sedekah, dan pelestarian seni tradisional ini, tersimpan harapan besar agar warga selalu menjaga kerukunan dan kegotongroyongan dalam kehidupan sehari-hari.
Tradisi di Desa Kepanjen ini menjadi bukti nyata bahwa di tengah gempuran zaman modern, masyarakat Pace Nganjuk tetap teguh memegang pepatah “Wong Jawa aja lali Jawane” orang Jawa jangan sampai lupa akan identitas dan asal-usulnya.






