KabarBaik.co, Surabaya – Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jatim mengakui telah terjadi pengurangan jumlah karyawan di dua perusahaan komponen otomotif yang berlokasi di Pasuruan dan Mojokerto. Langkah ini turut menguatkan kabar mengenai rencana relokasi atau pemindahan pabrik milik investor Jepang tersebut ke Vietnam.
Kepala Bidang Pengawasan dan K3 Disnakertrans Jatim Tri Widodo membenarkan bahwa pengurangan tenaga kerja dilakukan dengan cara tidak memperpanjang kontrak kerja karyawan. Total pekerja yang terdampak mencapai 600 orang, yang terbagi menjadi 300 orang dari masing-masing perusahaan, yakni PT Jatim Autocom Indonesia (JAI) dan PT Surabaya Autocom Indonesia (SAI).
“Perusahaan merencanakan pengurangan tenaga kerja sekitar 300 orang di masing-masing perusahaan, sehingga total pekerja yang terdampak diperkirakan sekitar 600 orang,” ujar Widodo kepada wartawan, Jumat (26/6).
Menurut Widodo, keputusan pemangkasan karyawan ini diambil lantaran adanya penurunan volume order dari principal atau pemilik merek. Dampaknya, perusahaan memutuskan untuk memindahkan sebagian lini produksinya ke luar Indonesia.
Ia mengakui bahwa daya tarik investasi di Vietnam saat ini dinilai sangat kuat. Fasilitas dan situasi negara tersebut disebut-sebut menjadi alasan utama mengapa investor memilih mengalihkan produksi ke sana.
“Isu Vietnam itu memang luar biasa karena fasilitas di sana infonya memang jauh lebih bagus karena situasi negara juga. Nah ini yang masih dinego-nego untuk bertahan di Indonesia,” jelasnya.
Lebih lanjut, Widodo menuturkan bahwa persaingan daya tarik investasi di kawasan Asia Tenggara saat ini sangat ketat. Hal ini membuat banyak investor mempertimbangkan untuk memindahkan atau mengembangkan usahanya di negara lain yang dinilai lebih menguntungkan.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa rencana pemindahan pabrik tersebut sebenarnya sudah direncanakan sejak dua tahun lalu. Bahkan, jadwal pemutusan hubungan kerja (PHK) atau pemulangan karyawan pun sudah diatur secara rinci.
“Sebenarnya perusahaan itu settle, perusahaan baik. Jadi dua tahun sebelumnya sudah terencana, jadi baik pekerjaan, proyek, tanggal bulan berapa harus di-off kan sudah diatur. Jadi jumlah (pengurangan karyawan) tadinya banyak sekarang turun, besoknya jadi banyak lagi,” tambahnya.
Terakhir, Widodo memastikan bahwa dalam waktu dekat kedua pabrik tersebut tidak akan sepenuhnya pindah ke Vietnam. Keputusan akhir akan sangat bergantung pada situasi dan kondisi ekonomi serta politik global.
“Harapannya kita semakin kondusif, semakin baik, enggak jadi pindah. Bahkan, nambah perusahaan di sana, yang di sini tetap (beroperasi),” pungkasnya. (*)






