KabarBaik.co, Jember – Sektor pertanian di wilayah Jember Selatan, khususnya Kecamatan Gumukmas, saat ini tengah menghadapi ancaman serius. Ratusan hektare lahan padi dan jagung dilaporkan rusak parah akibat serangan hama tikus yang kian beringas dalam beberapa pekan terakhir.
Ganasnya serangan ini bahkan mampu meluluhlantakkan puluhan hektare tanaman dalam waktu satu malam saja.
Kondisi terparah salah satunya melanda Desa Gumukmas. Para petani setempat mengaku kehabisan cara untuk membendung populasi tikus yang meledak tak terkendali.
Seorang petani jagung asal Dusun Krebet, Agus, 45 tahun, membagikan keluh kesahnya mengenai dampak nyata dari teror ini.
“Tanaman jagung yang sudah mulai tumbuh besar habis dimakan tikus hanya dalam semalam. Luasannya mencapai puluhan hektare. Kerugian kami sangat besar,” ungkap Agus, Jumat (12/6).
Merespons jeritan para petani, Koordinator DPP Gumukmas sekaligus Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) wilayah Kencong, Moerdoso, menegaskan bahwa kunci utama memutus mata rantai hama ini adalah kekompakan para petani.
Menurutnya, penanganan yang dilakukan sendiri-sendiri tidak akan membuahkan hasil maksimal. Beberapa langkah taktis yang direkomendasikan antara lain pemberian umpan beracun secara masif untuk menekan populasi, membongkar sarang-sarang tikus yang berada di pematang sawah secara gotong royong, mengasapi lubang persembunyian tikus menggunakan alat berbahan gas agar hama mati di dalam sarangnya.
Selain memberikan edukasi, pihak PPL juga telah bergerak mengupayakan bantuan stimulan.
Sejak seminggu lalu, mereka telah melayangkan permohonan bantuan obat-obatan pengendali hama ke Petugas Pengamat Hama dan Penyakit (PPHP) Kabupaten Jember.
“Petani sudah melapor, baik lewat PPL maupun media. Kami sangat berharap pemerintah daerah segera merespons cepat agar dampak kerusakan tidak semakin meluas,” tutur Moerdoso.
Kekhawatiran senada diungkapkan oleh Moh Subur, seorang tokoh masyarakat yang juga aktif bertani di kawasan tersebut. Ia menilai intensitas serangan tikus tahun ini sudah masuk dalam kategori tidak wajar dan sangat memukul perekonomian warga.
“Kerusakannya terjadi serentak menjelang masa panen. Jika tidak ada tindakan darurat yang serius, fenomena ini bukan saja menghancurkan kesejahteraan petani di Gumukmas, tapi juga bisa mengancam ketahanan pangan daerah,” pungkasnya.(*)






