KabarBaik.co, AS – Laga antara Prancis melawan Inggris di Miami Stadium, Minggu (19/7) pukul 04.00 WIB, bukan sekadar pertandingan perebutan medali perunggu Piala Dunia 2026. Di balik laga yang kerap disebut sebagai the game nobody wants to play, tersimpan pertaruhan besar bagi masa depan dua pelatih papan atas Eropa. Yakni, Didier Deschamps dan Thomas Tuchel.
Bagi Prancis, pertandingan ini menjadi penutup era Deschamps bersama Les Bleus. Pelatih yang membawa Prancis menjuarai Piala Dunia 2018 dan mencapai final 2022 itu akan mengakhiri masa panjangnya di kursi kepelatihan tim nasional. Kemenangan di Miami akan menjadi salam perpisahan sempurna bagi salah seorang pelatih paling sukses dalam sejarah sepak bola Prancis.
Sementara bagi Inggris, duel ini menjadi ujian penting bagi Tuchel. Kegagalan melangkah ke final setelah kalah dramatis 1-2 dari Argentina di semifinal, membuat pelatih asal Jerman itu berada di bawah sorotan. Kemenangan atas Prancis akan menjadi cara terbaik untuk meredakan kritik sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap proyek barunya bersama The Three Lions.
Media setempat melaporkan Tuchel menegaskan dirinya tidak menyesali keputusan taktik saat semifinal dan ingin menutup turnamen dengan hasil terbaik bagi Inggris. Bagi sang pelatih, laga perebutan tempat ketiga tetap memiliki arti penting karena menyangkut karakter dan mentalitas tim nasional.
Di kubu Prancis, motivasi juga datang dari faktor emosional. Bek Ibrahima Konate mengungkapkan para pemain ingin menghadiahkan kemenangan terakhir untuk Deschamps. Meski menyadari laga ini tidak bisa menggantikan final, skuad Les Bleus tetap ingin menghormati seragam nasional dengan mengakhiri turnamen lewat kemenangan.
Sebuah media Inggris menyebut, laga perebutan tempat ketiga memang sering dianggap sebagai pertandingan yang tidak diinginkan tim mana pun. Namun, mereka menilai duel Prancis kontra Inggris tetap memiliki nilai tinggi karena mempertemukan dua negara dengan tradisi sepak bola besar yang gagal selangkah menuju final.
Prancis Masih Lebih Diunggulkan
Meski kedua tim sama-sama gagal di semifinal, sejumlah media internasional masih menempatkan Prancis sebagai favorit tipis.
Analisis memberikan peluang kemenangan Prancis sebesar 50,7 persen, sedangkan Inggris berada di angka 25,6 persen dalam waktu normal. Faktor utama yang membuat Les Bleus lebih dijagokan adalah kedalaman skuad dan konsistensi lini serang sepanjang turnamen.
Sejumlah kalangan juga memperkirakan laga akan berjalan terbuka. Beberapa prediksi skor yang muncul mengarah pada kemenangan Prancis 2-1 atau 3-1, walaupun Inggris tetap memiliki peluang besar karena kualitas pemain seperti Harry Kane dan Jude Bellingham.
Yang menarik, kendati hanya memperebutkan posisi ketiga, laga di Miami Stadium itu tetap memiliki daya tarik besar karena menyangkut persaingan penghargaan individu. Yakni, Sepatu Emas Piala Dunia 2026.
Tentu, Kylian Mbappe menjadi salah satu pemain yang paling berkepentingan dalam pertandingan tersebut. Penyerang PSG itu masih berada dalam persaingan teratas pencetak gol terbanyak turnamen. Satu atau dua gol tambahan bisa menjadi pembeda dalam perebutan penghargaan individu paling bergengsi bagi seorang penyerang.
Dari kubu Inggris, Harry Kane juga memiliki motivasi besar. Kapten The Three Lions itu ingin menutup turnamen dengan catatan positif setelah mimpi membawa Inggris ke final kembali kandas. Selain mengejar medali perunggu, Kane masih memiliki peluang memperbaiki posisinya dalam daftar pencetak gol.
Situasi tersebut membuat pertandingan ini bukan hanya pertarungan antartim, melainkan juga panggung bagi para pemain depan untuk mengukuhkan nama mereka dalam sejarah Piala Dunia.
Sejarah Justru Membuat Pertandingan Menarik
Meski sering dianggap sebagai laga hibruan terakhir setelah kegagalan mencapai final, sejarah Piala Dunia menunjukkan bahwa perebutan tempat ketiga tetap memiliki cerita menarik.
Inggris memiliki catatan kurang baik dalam laga perebutan posisi ketiga. The Three Lions belum pernah memenangkan dua pertandingan perebutan tempat ketiga sebelumnya dalam sejarah Piala Dunia. Karena itu, kemenangan atas Prancis akan menjadi kesempatan memperbaiki catatan sejarah di panggung terbesar sepak bola dunia.
Sebaliknya, Prancis memiliki pengalaman lebih baik. Les Bleus pernah finis ketiga pada Piala Dunia 1958 setelah mengalahkan Jerman Barat 6-3, sebuah laga yang juga menjadi panggung legendaris bagi Just Fontaine yang mencetak empat gol kala itu.
Selain faktor sejarah, pertandingan perebutan tempat ketiga sering menghadirkan duel yang lebih terbuka. Tanpa tekanan sebesar laga final, pemain lebih berani menyerang dan pelatih cenderung memberi kesempatan kepada pemain yang sebelumnya minim tampil.
Karena itu, duel Prancis melawan Inggris tetap menyimpan gengsi besar. Bagi Deschamps, kemenangan akan menjadi akhir manis dari perjalanan panjang bersama Les Bleus. Bagi Tuchel, kemenangan bisa menjadi fondasi penting untuk membangun kepercayaan terhadap era baru Inggris.
Prediksi Starting XI
Meski susunan resmi baru diumumkan menjelang pertandingan, sejumlah media Internasional memperkirakan kedua pelatih tetap menurunkan komposisi kompetitif.
Prancis (4-3-3): Mike Maignan; Jules Kounde, Ibrahima Konate, William Saliba, Theo Hernandez; Aurelien Tchouameni, Eduardo Camavinga, Warren Zaire-Emery; Michael Olise, Kylian Mbappe, Bradley Barcola.
Inggris (4-2-3-1): Jordan Pickford; Djed Spence, Marc Guehi, John Stones, Lewis Hall; Declan Rice, Elliott Anderson; Morgan Rogers, Jude Bellingham, Anthony Gordon; Harry Kane.
Tuchel diperkirakan melakukan beberapa rotasi karena faktor kebugaran pemain, sedangkan Deschamps kemungkinan tetap memainkan sejumlah pemain utama untuk memastikan pertandingan terakhirnya bersama Prancis berakhir dengan kemenangan.
Melihat performa sepanjang turnamen, kualitas lini serang, serta prediksi sejumlah analis internasional, Prancis masih sedikit lebih diunggulkan. Prediksi skor: Prancis 2-1 Inggris.
Namun, laga perebutan tempat ketiga sering kali sulit ditebak. Dengan Mbappe mengejar Sepatu Emas, Kane memburu catatan akhir yang positif, serta Deschamps dan Tuchel yang sama-sama membutuhkan kemenangan, duel di Miami Stadium berpotensi menjadi salah satu pertandingan penutup paling menarik di Piala Dunia 2026. (*)






