KabarBaik.co– Ketua Serikat Nelayan PWNU Jatim (SNNU Jatim) Kuntjoro Basuki Dhiyauddin MSi mengingatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bisa jebol lewat laut. Baik dari aspek kolonialisme, dakwah, maupun kejahatan.
“Karena itu, peningkatan SDM nelayan untuk menjamin kesejahteraan kehidupan nelayan menjadi stressing SNNU Jatim,” katanya dalam ‘Ngaji Nusantara’ PWNU Jatim di lantai 1 Gedung PWNU Jatim, Surabaya.
Dalam kajian tematik tentang “Menjaga Kawasan Pesisir Tanggungjawab Siapa?’’ bersama Dr H Ikhwan Arief dari PW GP Ansor Jatim, Kuntjoro menjelaskan bahwa kondisi SDM nelayan di NU masih memprihatinkan. “Dari 358 lulusan Sekolah Nelayan yang saya asuh, hanya lima orang dari mereka yang putra nelayan dan berhasil bekerja di Jepang,” katanya.
Pada acara yang juga diisi tausiyah Dr KH Misbahul Munir MAg (Wakil Katib Syuriyah PWNU Jatim) itu, Kuntjoro juga mengatakan, Indonesia adalah negara maritim, baru kemudian negara agraris dan lainnya. “Karena potensi laut yang besar itu, maka kita jangan pernah berhenti ngaji kemaritiman, karena potensi sumber daya alam (SDA) laut yang lebih besar dan lebih menjanjikan daripada sektor lain,” paparnya.
Hal yang sama juga dikemukakan Ikhwan Arief. Dia menegaskan, Ansor sudah lama mempunyai Baritim atau Banser Maritim. Sebab, negara dan NU memang harus hadir dalam soal kemaritiman. Bila NU atau negara tidak hadir dalam masalah kemaritiman, maka potensi kemaritiman akan dikuasai investor dan masyarakat nelayan hanya menjadi buruh. “Wilayah pantai atau pesisir itu pintu masuknya infiltrasi kejahatan termasuk narkoba, bahkan kelompok radikal juga masuk lewat laut,” katanya.
Pandangan SNNU dan Ansor Jatim tersebut juga didukung Wakil Katib Syuriyah PWNU Jatim KH Dr Misbahul Munir. “Islam masuk Indonesia juga lewat laut,” ungkapnya.
Dalam tausiyahnya, ulama asal Pasuruan itu juga menekankan pentingnya umat Islam, terutama warga NU, untuk istiqamah membaca Alquran, memperbanyak salawat dan istighfar, serta sedekah. Terlebih selama Ramadan. (*)







