KabarBaik.co, Banyuwangi – Bakti sosial operasi katarak gratis kembali digelar di Banyuwangi. Program kerjasama antara Pemkab Banyuwangi, PMI, dan John Fawcett Foundation (JFF) yang telah berjalan selama 12 tahun ini kembali diikuti ratusan warga.
Sejak digulirkan pada 2014, program pelayanan kesehatan mata gratis ini telah berhasil mengoperasi katarak lebih dari 4.500 warga.
Pada pelaksanaan kali ini, sebanyak 718 warga telah terdaftar untuk mengikuti operasi katarak gratis yang berlangsung selama lima hari, mulai Selasa (28/4) hingga Sabtu (2/5).
Bakti sosial operasi katarak tahap pertama ini ditargetkan mampu menjangkau 300 hingga 350 pasien.
“Kami sangat berterima kasih kepada PMI Banyuwangi dan John Fawcett Foundation yang terus konsisten memberikan layanan ini,” kata Sekretaris Daerah (Sekda) Banyuwangi, Guntur Priambodo, saat membuka acara di Markas PMI Banyuwangi, Selasa (28/4).
Kegiatan tersebut turut dihadiri Dandim 0825 Banyuwangi Letkol (Arm) Triyadi Indrawijaya, Ketua JFF Indonesia I Gede Bingin, serta JFF Australia Board Member dr. Joss Meyer.
Guntur menambahkan, program operasi katarak gratis sangat bermanfaat bagi masyarakat. Selain membantu memulihkan penglihatan warga, bakti sosial ini juga diharapkan mampu meningkatkan produktivitas masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
“Semoga program ini terus berkelanjutan agar semakin banyak warga yang terbantu,” kata Guntur.
Selain operasi katarak gratis, pada kegiatan tersebut juga dilakukan pemeriksaan mata gratis kepada 1.500-2.000 orang, penanganan 151 pasien refraksi, serta penggantian bola mata palsu (protesa) kepada 15 pasien.
Bakti sosial ini melibatkan 7 dokter spesialis mata, 32 tenaga medis, serta relawan dari Dinas Kesehatan, PMI, dan berbagai lintas sektor. Pelaksanaan operasi dilakukan di dua lokasi, yakni Markas PMI Banyuwangi dan RSUD Blambangan.
Ketua JFF Indonesia, I Gede Bingin, menyampaikan bahwa John Fawcett Foundation berkomitmen untuk terus mendukung program Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam menanggulangi kebutaan, khususnya yang disebabkan oleh katarak.
“Kami berharap kerja sama ini dapat terus berlanjut dan senantiasa memberikan manfaat nyata dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Senada diungkapkan oleh JFF Australia Board Member dr. Joss Meyer. Ia mengaku sangat senang dapat hadir di Banyuwangi dan terlibat langsung dalam aksi kemanusiaan tersebut.
“Ini merupakan bentuk kolaborasi nyata antara Australia, Indonesia, John Fawcett Foundation, dan masyarakat Banyuwangi. Terima kasih kepada para pasien dan keluarga atas kepercayaannya. Kami sangat menantikan hasil positif dari kegiatan ini bagi kesehatan mata warga,” ungkap dr. Joss.
Salah satu pasien operasi katarak, Sayunah, 52, warga Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, mengaku telah menderita katarak pada mata kirinya selama tiga tahun terakhir. Selama itu pula, ia kerap mengeluhkan kondisi mata yang terus berair.
“Saya sangat bersyukur bisa ikut operasi karena pelayanan ini gratis. Ini sangat membantu warga seperti saya. Semoga setelah ini saya bisa melihat dengan normal kembali,” ujarnya.
Manfaat program ini juga dirasakan oleh M. Misbahul Munir, 32. Warga Tulungagung ini rela menempuh perjalanan jauh ke Banyuwangi untuk menjalani prosedur pemasangan bola mata palsu. Ini merupakan kali kedua Munir mengikuti program JFF, setelah sebelumnya pernah ikut pada tahun 2023.
Munir menceritakan bahwa kerusakan matanya bermula dari kecelakaan kerja saat terkena percikan las. Ia mengetahui informasi program gratis ini melalui Facebook dan sengaja pulang dari tempat kerjanya di Kalimantan demi mengikuti kegiatan tersebut.
“Saya sangat bersyukur ada program ini. Saya sempat bertanya ke rumah sakit di Tulungagung, biaya pemasangan bola mata palsu itu paling murah sekitar Rp 6-8 juta, bahkan yang kualitas bagus bisa mencapai Rp 15 juta,” ungkap Munir.








