BEM Unair Bikin Petisi Minta MBG Dihentikan, Tanda Tangan Terkumpul Tembus 31 Ribu

oleh -115 Dilihat
WhatsApp Image 2026 06 09 at 1.31.12 PM
Petisi BEM Unair menghentikan program MBG (Tangkapan layar)

KabarBaik.co, Surabaya – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga (Unair) membuat petisi untuk menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hingga Selasa (9/6) siang, jumlah tanda tangan yang masuk tercatat mencapai 31.325 tanda tangan terverifikasi.

Petisi tersebut disampaikan melalui akun Instagram BEM Unair dan ditandatangani langsung oleh Presiden BEM Unair, Rizqi Senja. Dalam unggahannya, BEM Unair mengajak masyarakat ikut menyuarakan penghentian sementara program MBG yang dinilai menyisakan sejumlah persoalan.

Rizqi mengatakan munculnya petisi tersebut berangkat dari berbagai dinamika yang terjadi terkait pelaksanaan program MBG. Menurutnya, perkembangan terbaru yang terjadi di Badan Gizi Nasional (BGN) menjadi perhatian serius bagi pihaknya.

“Peristiwa yang terjadi belakangan ini menjadi indikasi yang perlu diperhatikan. Dari situ kami ingin memberikan ultimatum kepada pemerintah bahwa program ini perlu dievaluasi secara serius,” kata Rizqi saat dikonfirmasi KabarBaik.co, Selasa (9/6).

Menurutnya, petisi tersebut juga menjadi sarana untuk mengukur sejauh mana perhatian masyarakat terhadap isu MBG. BEM Unair ingin mengetahui seberapa besar dukungan publik terhadap tuntutan evaluasi hingga penghentian sementara program tersebut.

Rizqi menegaskan sikap BEM Unair terhadap MBG sebenarnya tidak berubah sejak awal. Organisasi mahasiswa itu menilai terdapat sejumlah persoalan dalam implementasi program, mulai dari efektivitas pelaksanaan di lapangan hingga penggunaan anggaran negara.

“Kami sejak awal memang menolak MBG. Ada banyak persoalan yang kami lihat, mulai dari implementasi di lapangan, pembengkakan anggaran, penyerapan APBN, hingga dugaan persoalan dalam pengadaan barang dan jasa,” ujarnya.

Meski demikian, BEM Unair menilai pemerintah tetap perlu memperhatikan pemenuhan gizi anak-anak Indonesia. Hanya saja, menurut mereka, program semestinya lebih difokuskan pada wilayah yang benar-benar membutuhkan, termasuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Menurut Rizqi, kebutuhan bantuan pangan dan gizi di setiap daerah tidak bisa disamaratakan. Ia menilai anak-anak yang berasal dari keluarga mampu di perkotaan belum tentu menjadi kelompok yang paling membutuhkan intervensi melalui program MBG.

Selain tingginya dukungan melalui petisi, perhatian publik terhadap isu tersebut juga terlihat dari aktivitas di media sosial. Rizqi menyebut unggahan petisi BEM Unair telah menjangkau jutaan pengguna media sosial.

“Terakhir yang saya cek, insight di Instagram mencapai sekitar 1,7 juta,” katanya.

Terkait respons yang diterima setelah petisi diluncurkan, Rizqi mengaku hingga kini tidak ada tekanan dari pihak kampus. Menurutnya,
Universitas Airlangga masih memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi.

“Alhamdulillah tidak ada tekanan dari kampus. Kampus sejauh ini cukup kooperatif terhadap gerakan mahasiswa,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengaku sempat menerima sejumlah panggilan dari nomor tak dikenal setelah petisi tersebut ramai diperbincangkan. Namun hal itu tidak dianggap sebagai sesuatu yang perlu dikhawatirkan.

“Memang sempat ada beberapa telepon dari nomor yang tidak dikenal, tetapi saya anggap biasa saja,” pungkasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Irma Hari Trisiawardani
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.