Ekosistem Kebun Raya Mangrove Surabaya Terjaga Baik, Keanekaragaman Hayati Lengkap

oleh -445 Dilihat
WhatsApp Image 2026 06 27 at 1.44.43 PM 1
Kebun Raya Mangrove Surabaya dilihat dari udara (Istimewa)

KabarBaik.co, Surabaya – Keberadaan puluhan jenis burung, kupu-kupu, kucing bakau, hingga kepiting pemanjat pohon menjadi bukti nyata bahwa ekosistem di Kebun Raya Mangrove (KRM) Surabaya masih terjaga dengan sangat baik. Kawasan konservasi yang dikelola Pemkot Surabaya ini tidak hanya menjadi pusat koleksi tanaman bakau, tetapi juga berfungsi sebagai habitat yang aman bagi beragam satwa liar.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kebun Raya Mangrove Surabaya, Dian Prasetyaningtyas, menjelaskan bahwa saat ini KRM Surabaya memiliki 74 spesies mangrove dari total sekitar 245 spesies yang ada di Indonesia. Angka ini mencakup hampir 30 persen total spesies mangrove nasional, menjadikannya kawasan dengan keragaman jenis terbanyak dibandingkan area mangrove lainnya.

“Relatif memang untuk jenis spesiesnya yang paling banyak di antara area mangrove yang lain. Bahkan, KRM Surabaya merupakan satu-satunya kebun raya bertema mangrove di Indonesia,” ujar Dian, Sabtu (26/6).

Berbeda dengan kawasan hutan mangrove pada umumnya, KRM Surabaya telah memenuhi standar fungsi sebagai kebun raya tematik. Dari total 48 kebun raya yang ada di Indonesia, hanya Surabaya yang khusus mengusung tema mangrove.

Pengelolaan kawasan ini semakin diperkuat setelah bergabung dengan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Surabaya. Target ke depannya adalah menjadikan KRM Surabaya sebagai laboratorium mangrove bertaraf dunia yang lengkap memiliki seluruh spesies mangrove yang ada di Indonesia.

Indikator Kesehatan Ekosistem

Keberhasilan menjaga lingkungan juga terlihat dari keragaman fauna yang hidup di sana. Tercatat sedikitnya terdapat 35 jenis burung yang singgah maupun menetap, serta berbagai jenis kupu-kupu yang menghiasi vegetasi bakau.

Salah satu temuan paling penting adalah keberadaan kucing bakau. Satwa liar yang sulit dikembangbiakkan dalam penangkaran ini pernah ditemukan melalui penelitian dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

“Keberadaan kucing bakau itu menunjukkan kalau ekosistemnya terjaga dengan baik. Tidak banyak tempat yang bisa ditemukan satwa ini, karena mereka memang hidup liar dan sangat sensitif terhadap lingkungan,” papar Dian.

Selain itu, terdapat pula kepiting pemanjat pohon, jenis kepiting bakau yang tidak bisa dikonsumsi karena mengandung zat beracun. Untuk kawasan Gunung Anyar, satwa reptil yang sering ditemui adalah biawak, berbeda dengan area Wonorejo yang pernah terlihat adanya buaya.

Saat ini, UPTD KRM mengelola dua kawasan strategis, yaitu Gunung Anyar-Medokan Sawah dan Wonorejo, dengan total luas mencapai 34 hektare. Hutan bakau yang rimbun ini sangat efektif meredam abrasi, namun masih menghadapi tantangan klasik.

Menurut Dian, sebagai wilayah hilir, Surabaya selalu mendapatkan kiriman sampah dari aliran sungai hulu. Sampah yang menyangkut di akar pohon dapat mengganggu pertumbuhan mangrove dan menjadi pekerjaan rumah yang harus terus ditangani demi kelestarian kawasan hijau yang bernilai ekologis tinggi ini. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Sugiantoro
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.