KabarBaik.co, Nganjuk – Keberhasilan kader Desa Getas, Kecamatan Tanjunganom dalam menjalankan program Kemping Asik (Pendampingan Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif) sukses mencuri perhatian.
Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Nganjuk memberikan apresiasi tinggi atas dedikasi para kader dalam mengawal kesehatan ibu dan anak di wilayah tersebut.
Apresiasi itu disampaikan langsung oleh Ketua TP PKK Kabupaten Nganjuk, S. Wahyuni Marhaen, saat menghadiri penilaian Lomba Kemping Asik secara virtual dari Ruang Rapat Marsinah Pemkab Nganjuk.
“Menang atau kalah itu bonus. Yang terpenting adalah bagaimana program ini benar-benar berjalan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Saya berharap program Kemping Asik yang menjadi pilot project di Desa Getas ini dapat menjadi motivasi bagi desa-desa lain sehingga bisa diterapkan di seluruh Kabupaten Nganjuk,” ujar S. Wahyuni Marhaen, Selasa (22/6).
Istri Bupati Marhaen ini menambahkan, di era modern seperti sekarang, tantangan yang dihadapi ibu muda dalam menyusui jauh lebih kompleks dibandingkan generasi terdahulu. Oleh karena itu, pendampingan yang intensif dan berkelanjutan di tingkat desa mutlak diperlukan.
“Bayi harus mendapatkan haknya untuk memperoleh ASI eksklusif selama enam bulan. Tidak ada merek susu apa pun yang bisa menandingi kualitas ASI. Ini adalah bekal terbaik untuk tumbuh kembang anak,” tegas S. Wahyuni.
Lebih lanjut, S. Wahyuni menyoroti bahwa hambatan terbesar pemberian ASI eksklusif sering kali datang dari lingkungan sekitar akibat mitos yang keliru. Salah satunya adalah anggapan bahwa kolostrum (ASI pertama yang keluar) adalah cairan kotor yang harus dibuang, padahal zat tersebut kaya akan antibodi alami bagi bayi.
Sebagai solusi, inovasi edukasi berbasis grup WhatsApp yang melibatkan seluruh anggota keluarga termasuk suami, kakek, dan nenek dinilai menjadi langkah cerdas untuk mendobrak mitos tersebut.
“Kadang yang menjadi tantangan bukan hanya ibunya, tetapi lingkungan terdekatnya. Karena itu edukasi harus menyasar keluarga juga agar semua memberikan dukungan kepada ibu menyusui,” ungkapnya.
Menutup arahannya, Ketua TP PKK Nganjuk berpesan agar para kader kesehatan tidak bosan memperkuat koordinasi dengan bidan desa maupun Dinas Kesehatan. Kader dituntut siap menjadi garda terdepan kapan pun masyarakat membutuhkan bantuan terkait pemenuhan gizi anak.
“Panjenengan (anda) tetap harus sering berkoordinasi dan berkomunikasi terkait kendala yang ada di lapangan. Jika suatu saat bidan sedang ada kegiatan di luar dan ada ibu menyusui yang mengalami kesulitan, kader harus sudah siap membantu karena telah memiliki bekal ilmu yang cukup,” pungkasnya.
Melalui keberhasilan Desa Getas sebagai pilot project, TP PKK Kabupaten Nganjuk optimis kesadaran akan pentingnya ASI eksklusif akan semakin meluas.
Langkah nyata ini diharapkan mampu melahirkan generasi Nganjuk yang lebih sehat, cerdas, sekaligus menekan angka masalah kesehatan pada ibu dan bayi di masa depan.






