KabarBaik.co, Mataram – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal, mengkhawatirkan terjadinya degradasi nilai keluarga yang dinilai menjadi pemicu berbagai persoalan sosial di NTB, mulai dari pernikahan usia dini hingga peredaran narkoba.
Ia mencontohkan kampanye “Back to Family Value” yang pernah diusung Barack Obama sebagai bukti bahwa negara maju sekalipun kembali menempatkan keluarga sebagai fondasi utama pembangunan sosial.
Pernyataan tersebut disampaikan Gubernur NTB saat menghadiri Pelantikan Pimpinan Cabang Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) se-NTB yang dirangkaikan dengan peringatan Harlah ke-80 Muslimat NU dan Halal Bihalal di Hotel Lombok Raya, Mataram, Minggu (5/4).
Dalam kesempatan itu, Gubernur NTB menekankan pentingnya peran perempuan sebagai tiang penyangga peradaban dan ketahanan keluarga. Ia menilai, perempuan memiliki kekuatan psikis yang lebih besar dalam menjaga keharmonisan rumah tangga.
“Secara fisik laki-laki mungkin lebih kuat, tetapi secara psikis, perempuan jauh lebih kuat. Ibu-ibu adalah sumber keteduhan bagi suami, anak-anak, bahkan bagi peradaban kita,” ujarnya di hadapan ratusan kader Muslimat NU.
Mengusung tema “Merawat Tradisi, Menguatkan Kemandirian, dan Meneduhkan Peradaban”, kegiatan ini dinilai relevan dengan tantangan modernisasi, khususnya ketika Indonesia bergerak menuju negara industri yang berpotensi mengikis nilai-nilai kekeluargaan.
Gubernur Iqbal juga menegaskan bahwa peran Muslimat NU sangat strategis dalam menjaga fondasi sosial masyarakat.
“Penjaga kedaulatan kita bukan hanya aparat, tetapi Muslimat NU adalah garda terdepan penjaga nilai-nilai keluarga. Jika Muslimat NU bergerak menjaga pondasi ini, maka separuh dari persoalan sosial di NTB insya Allah akan terselesaikan,” tegasnya.
Ia mengajak seluruh pengurus yang baru dilantik untuk bersinergi dengan pemerintah daerah dalam membangun NTB yang makmur dan mendunia, dimulai dari penguatan ketahanan keluarga.
Sementara itu, Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa, memberikan apresiasi atas pengabdian Muslimat NU selama delapan dekade. Ia menegaskan bahwa tema Harlah ke-80 bukan sekadar slogan, melainkan peta jalan organisasi dalam menghadapi tantangan zaman.
“Muslimat NU harus terus menjadi penyejuk di tengah masyarakat. Kemandirian ekonomi dan penguatan tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah adalah benteng utama menghadapi gempuran budaya luar,” ujarnya.
Khofifah menekankan bahwa ketahanan keluarga merupakan pilar utama menuju Indonesia Emas. Ia mengingatkan bahwa tantangan saat ini semakin kompleks, termasuk pengaruh digital yang langsung masuk ke dalam kehidupan rumah tangga.
“Keluarga adalah benteng pertama. Jika benteng ini rapuh, maka pertahanan bangsa juga akan goyah,” tuturnya.
Ia juga mendorong kader Muslimat NU untuk beradaptasi dengan perkembangan digital tanpa meninggalkan identitas keislaman, serta memperkuat kemandirian dalam berpikir, bertindak, dan ekonomi.
Acara pelantikan berlangsung khidmat dengan nuansa khas Muslimat NU, serta dihadiri ratusan kader dari berbagai daerah di NTB. Momentum ini diharapkan menjadi penguat sinergi antara organisasi keagamaan dan pemerintah dalam pembangunan sosial berbasis keluarga di Bumi Gora.(*)






