KabarBaik.co, Bojonegoro – Kenaikan Pertamax memicu perubahan pola konsumsi BBM warga di Bojonegoro. Akibat lonjakan harga yang mencapai hampir Rp 4.000 per liter, banyak warga memilih beralih ke BBM subsidi alias Pertalite.
Penyesuaian harga Pertamax resmi berlaku mulai Rabu (10/6) dini hari. Harga yang sebelumnya Rp 12.300 per liter naik menjadi Rp 16.250 per liter. Kenaikan signifikan tersebut langsung dirasakan warga dan berdampak pada penjualan di sejumlah SPBU.
Salah satu dampak paling nyata terjadi di SPBU Syirkah Amanah Balen. Sejak pemberlakuan harga baru, volume penjualan Pertamax mengalami penurunan drastis karena konsumen memilih beralih ke bahan bakar yang lebih murah.
Pengelola SPBU Syirkah Amanah Balen Zainul Fuad mengungkapkan bahwa penurunan penjualan sudah terlihat pada hari pertama kenaikan harga. Namun, pihaknya masih melakukan pendataan untuk mengetahui angka pasti penurunan tersebut.
“Turun drastis, namun kami belum bisa memaparkan jumlah penurunan pastinya. Sebab baru tadi malam pengumuman kenaikan harga. Dan baru kami rekap setelah 24 jam,” ujar Fuad, Rabu (10/6).
Fuad menambahkan kebanyakan dari konsumen yang biasa membeli pertamax, kini banyak yang beralih menggunakan pertalite. Hal menambah panjang antrian di SPBU yang terdapat di jalan Bojonegoro – Babat tersebut.
Kenaikan harga Pertamax juga memicu keluhan dari para pengguna. Ima, warga Kecamatan Sumberrejo, mengaku terpaksa mengubah pilihan bahan bakarnya karena harga Pertamax dinilai semakin memberatkan.
Menurutnya, sebelumnya ia sudah beralih dari Pertamax Turbo 98 ke Pertamax 92 akibat kenaikan harga. Namun, setelah Pertamax 92 kembali mengalami kenaikan, ia memilih menggunakan Pertalite.
“Sebelumnya saya pengguna Pertamax Turbo 98, mengalami kenaikan yang sangat drastis, akhirnya berubah ke Pertamax 92. Sekarang, juga ikut naik. Ya akhirnya beralih ke Pertalite,” tuturnya.
Keluhan serupa disampaikan Bila, warga Kecamatan Balen. Ia menilai kenaikan harga Pertamax 92 berdampak langsung terhadap pengeluaran transportasi sehari-hari.
“Cukup menguras kantong. Dan sangat kaget, kenaikannya hampir Rp 4.000 per liter,” ujarnya.
Kenaikan harga Pertamax ini menunjukkan bahwa perubahan tarif BBM nonsubsidi tidak hanya berdampak pada penjualan di SPBU, tetapi juga mendorong masyarakat untuk menyesuaikan pola konsumsi demi menekan pengeluaran harian. (*)






