SPBU di Sidoarjo Lengang gegara Pertamax Naik, Konsumen Beralih ke Pertalite

oleh -110 Dilihat
WhatsApp Image 2026 06 10 at 12.12.41 PM
Salah satu SPBU di Balongbendo Sidoarjo lengang gegara harga Pertamax naik 9Achmad Adi Nurcahyo)

KabarBaik.co, Sidoarjo – Suasana di sejumlah SPBU Balongbendo, Sidoarjo, tampak lebih lengang dari biasanya, Rabu (10/6). Kenaikan harga bahan bakar non-subsidi jenis Pertamax (RON 92) membuat minat masyarakat untuk membeli BBM tersebut menurun drastis.

Pantauan di salah satu SPBU di Balongbendo menunjukkan antrean kendaraan jauh berkurang. Bahkan, pengisian Pertamax terlihat minim peminat. Kondisi ini merupakan dampak langsung dari kebijakan kenaikan harga BBM non-subsidi yang diberlakukan Pertamina.

Salah seorang pengendara sepeda motor, Fajar, mengaku memilih beralih ke Pertalite setelah harga Pertamax mengalami kenaikan signifikan. Menurutnya, harga baru Pertamax sudah terlalu mahal untuk kebutuhan sehari-hari.

“Untuk saat ini saya lebih memilih Pertalite daripada Pertamax yang biasanya saya beli untuk motor saya, karena harganya terlalu mahal menurut saya,” ujarnya.

Kenaikan harga Pertamax terbilang cukup tinggi. Dari sebelumnya Rp 12.300 per liter, kini menjadi Rp 16.250 per liter atau naik Rp 3.950. Lonjakan harga tersebut membuat sebagian masyarakat terkejut karena sebelumnya tidak ada informasi atau pemberitahuan yang ramai diperbincangkan seperti saat isu kenaikan BBM pada akhir Maret lalu yang sempat memicu panic buying.

Fajar mengaku kenaikan mendadak tersebut membuat dirinya kaget saat hendak mengisi bahan bakar di SPBU. Ia menilai masyarakat seharusnya diberikan informasi lebih awal agar bisa mengantisipasi kenaikan harga.

“Kenaikan ini membuat kaget lantaran tidak ada pemberitahuan, langsung naik begitu saja. Saya pribadi kaget saat melihat harga di SPBU sudah Rp 16.250. Kalau ada pemberitahuan mungkin saya akan isi bensin lebih awal sebelum hari H naik,” imbuhnya.

Dampak kenaikan harga juga dirasakan oleh petugas SPBU. Salah satu pegawai SPBU di Balongbendo menyebut jumlah pembeli Pertamax turun drastis sejak pagi hari. Banyak pengguna kendaraan yang memilih beralih ke BBM subsidi karena selisih harga yang cukup jauh.

“Saat ini Pertamax benar-benar mahal harganya, jadi yang mengisi sangat berkurang. Dari pagi tadi sepi,” keluhnya.

Tak hanya Pertamax, kenaikan juga terjadi pada Pertamax Green 95. Harga BBM dengan RON 95 tersebut kini menjadi Rp 17.000 per liter dari sebelumnya Rp 12.900 per liter.

Di tengah tekanan ekonomi dan nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat, kenaikan harga BBM non-subsidi menambah kekhawatiran masyarakat. Bagi sebagian warga, lonjakan harga yang terjadi tanpa banyak prediksi sebelumnya membuat beban pengeluaran rumah tangga semakin berat.

Kini masyarakat tidak hanya dihadapkan pada kenaikan biaya berbagai kebutuhan pokok, tetapi juga ongkos transportasi yang berpotensi ikut meningkat akibat mahalnya harga bahan bakar. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Achmad Adi Nurcahya
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.