KabarBaik.co, Jember – Buntut dari kasus penelantaran atlet lari asal Kenya, DPRD Kabupaten Jember mendesak evaluasi menyeluruh terhadap setiap penyelenggaraan event olahraga lokal. Langkah ini dinilai krusial agar reputasi pariwisata daerah yang sedang dibangun tidak tercoreng oleh ketidaksiapan panitia.
Peringatan tegas tersebut disampaikan oleh Ketua Komisi B DPRD Jember Candra Ary Fianto. Ia menyoroti pentingnya profesionalisme penyelenggara, terutama saat mengundang peserta tingkat internasional atau luar daerah.
“Prinsipnya, jika ingin membawa nama Jember lewat sebuah event, manajemennya harus dipersiapkan dengan matang dari segala sisi. Kita punya tanggung jawab bersama untuk menjaga citra daerah,” tegas politisi PDI Perjuangan tersebut pada Kamis, (23/7).
Candra menekankan bahwa Pemkab Jember saat ini gencar membangun branding pariwisata berbasis event berskala besar.
Hal ini selaras dengan arahan Bupati Jember Muhammad Fawait, yang menginginkan setiap kegiatan dikemas secara profesional.
Untuk mencegah insiden serupa terulang, Komisi B mengusulkan skema pengawasan baru, Dinas Pariwisata dan Olahraga (Dispora) diminta aktif memantau event sejak tahap perencanaan.
Langkah ini dianggap penting mengingat event internasional berdampak langsung pada perekonomian warga, mulai dari okupansi hotel hingga Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Sebelumnya, publik Jember dihebohkan oleh nasib tragis pelari asal Kenya, Matirim Thomas Kipkorir. Thomas telantar karena gagal mendapatkan hadiah juara sebesar Rp 10 juta yang awalnya hendak dipakai untuk ongkos pulang.
Pihak panitia menganulir hadiah tersebut dengan alasan regulasi lomba membatasi pemenang uang tunai khusus untuk Warga Negara Indonesia (WNI) beridentitas resmi.
Akibat kehabisan dana, Thomas beruntung mendapat uluran tangan dan bantuan ongkos dari warga lokal Jember untuk melanjutkan perjalanannya menuju Jakarta.(*)







