Ke Grand Final Proliga Lagi: Tanda-Tanda Lepas Kutukan “Spesialis Runner-Up” Gresik Phonska Plus

oleh -222 Dilihat
KEBOMAS

KabarBaik.co, Semarang – Selama 23 tahun bayang-bayang status “spesialis runner-up” itu masih kuat melekat. Tahun ini, momentum lepas dari “kutukan” itu kembali terbuka. Gresik Phonska Plus Pupuk Indonesia resmi menjadi tim pertama sektor putri yang mengamankan tiket Grand Final Proliga 2026, setelah mengalahkan Jakarta Electric PLN di Final Four Seri Semarang di GOR Jatidiri, Kamis (16/4) malam.

Kemenangan solid tersebut sekaligus menobatkan Gresik Phonska berpeluang besar sebagai juara di putaran kedua final four. Unggul atas rival terdekatnya, Jakarta Pertamina Enduro (JPE). Dengan performa dominan sepanjang musim ini, makin menguatkan skuad asuhan pelatih Alessandro Lodi ini sebagai kandidat peraih takhta Proliga 2026.

Dirut PT Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, sejak launching tim sudah menyatakan keyakinan bahwa Proliga 2026 adalah momen terbaik bagi Gresik Phonska Plus untuk mengakhiri puasa gelar. “Selama ikut Proliga kita hanya meraih prestasi tipis-tipis. Tidak pernah kita juara I, yang ada kita hanya runner up sampai enam kali catatannya. Musim ini adalah yang terbaik bagi kita untuk meraih juara I,” tegasnya kepada wartawan ketika itu.

Narasi “hampir tapi selalu gagal” memang melekat kuat pada Gresik Phonska Plus (dulu Gresik Petrokimia Pupuk Indonesia). Tercatat enam kali menjadi runner-up. Rekor terbanyak di antara semua klub putri, tanpa pernah meraih gelar juara. Pada 2002, kalah dari Jakarta Monas, kalah dari Bandung Artdeco Bank Jabar (2003), kalah dari Jakarta Electric PLN (2005), kalah dari Bandung Artdeco Bank Jabar lagi (2005), kalah dari Surabaya Bank Jatim (2007), dan terakhir kalah dari Bandung BJB Tandamata pada 2022.

Dari enam kekalahan tersebut, Bandung BJB Tandamata menjadi “penghalang” terbanyak (dua kali). Lalu, diikuti tim-tim Jakarta dan Surabaya yang kerap mendominasi era awal Proliga. Gresik sering lolos ke final di musim-musim perdana, tercatat lima kali dalam enam musim awal. Tapi, selalu pulang dengan status runner-up.

Musim 2026 membawa angin segar yang nyata. Salah satu tanda paling kentara adalah pecahnya mitos GOR Tridharma, Gresik. Sebelumnya, Gresik Phonska Plus tak pernah menang di kandang sendiri saat seri Proliga digelar di venue tersebut. Namun, tahun ini, tim tuan rumah berhasil menyapu bersih dua kemenangan di GOR Tridharma itu. Termasuk laga dramatis melawan Jakarta Livin’ Mandiri yang dituntaskan dengan skor 3-2 setelah drama lima set.

Kemenangan-kemenangan kandang itupun menjadi bukti bahwa skuad The Bulls kini memiliki mental lebih kuat dan mampu tampil dominan di hadapan ribuan suporter setia.

Selain itu, Gresik juga tampil tak terbendung di putaran pertama fase reguler, juara putaran tersebut dengan rekor hampir sempurna. Hanya dua kali kalah dari 12 kali pertandingan. Itupun karena tampil tidak dalam formasi lengkap. Oleksandra Bytsenko absen. Demikian juga di final four. Sejauh ini hanya kalah sekali secara mengejutkan dari Jakarta Popsivo Polwan.

Annie Mitchem, dan Oleksandra Bytsenko kerap menjadi senjata utama dalam serangan cepat dan mematikan. Medio Yoku, Arneta Putri, Shella Bernadheta, Geofanny Eka, Yulis Indah, dan skuad Gresik Phonska Plus lainnya terasa tampil begitu stabil.

Pada grand final edisi 2026, tampaknya semakin menjanjikan. Sebab, menggunakan format best of three. Tim yang memenangi dua laga dinyatakan juara. Bukan single match seperti tahun-tahun sebelumnya. Format ini memberi ruang lebih lebar bagi tim yang lebih konsisten, mampu beradaptasi antarlaga, dan memiliki kedalaman skuad. Peluang emas bagi Gresik yang selama ini sering “hampir” tapi gagal di laga penentu “all or nothing”.

Seperti diprediksi sejak awal, lawan di grand final Gresik adalah JPE yang diperkuat Megawati Hangestri Pertiwi alias si Megatron. Kedua tim sudah sering bersua sengit. Termasuk duel “grand final kepagian” di Seri Solo lalu. Performa Gresik masih tetap menunjukkan bahwa mereka siap membawa pulang makhota ke Bumi Majapahit.

Kini, pelatih dan pemain Gresik Phonska Plus fokus menjaga mental serta mengevaluasi kesalahan kecil agar tidak terulang di panggung grand final mendatang. Dukungan penuh dari suporter volimania Gresik dan Jawa Timur, semakin menjadi energi tambahan.

Dengan rekor enam kali runner-up yang masih membayangi, beban sejarah memang relatif berat. Namun, pecahnya mitos GOR Tridharma, dominasi di putaran reguler, performa solid di Final Four, serta perubahan format grand final menjadi hilal kuat bahwa kutukan “spesialis runner-up” itu mulai retak.

Apakah tahun 2026 akhirnya menjadi milik Gresik Phonska Plus yang naik tahta sebagai juara Proliga pertama mereka? Atau bayang-bayang enam kekalahan di grand final akan kembali hadir? Grand Final Proliga 2026 putri dijadwalkan berlangsung pada 24–26 April 2026 di GOR Amongrogo, Yogyakarta.

Pertarungan dua tim papan atas tersebut tidak hanya memperebutkan gelar juara. Akan tetapi juga menentukan apakah “spesialis runner-up” akhirnya bisa mematahkan kutukannya itu setelah lebih dari dua dekade.

Waktunya menanti jawaban di Yogyakarta. Dan, volimania tanah air siap menyaksikan salah satu laga paling dramatis dalam sejarah Proliga putri. Wani! (*)

 

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.