KabarBaik.co, Malang – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang mulai menyiapkan musim tanam raya tebu tahun 2026 melalui program bongkar ratoon yang ditargetkan mencakup lahan seluas 7.500 hektare. Program peningkatan produktivitas tebu tersebut dijadwalkan berlangsung secara masif mulai September mendatang.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang, Avicenna M. Saniputera mengatakan, saat ini tahapan persiapan sudah mulai dilakukan, termasuk pengolahan lahan yang direncanakan dimulai pada Agustus 2026.
“Tebu ini kan melihat musim. Insya Allah nanti musim tanam raya itu sebenarnya sudah ada bulan yang nanam. Tapi mungkin secara masif nanti mulai sekitar bulan September. Jadi Agustus kita sudah olah lahan, September nanti mulai musim tanam rayanya,” ujar Avicenna, Senin (25/5).
Ia menargetkan seluruh proses penanaman dalam program bongkar ratoon dapat selesai pada akhir November 2026. Dengan persiapan yang lebih matang, Pemkab Malang berharap keterlambatan pelaksanaan seperti yang terjadi pada tahun sebelumnya dapat diminimalkan.
“Mudah-mudahan nanti dengan ada persiapannya lebih bagus ini, keterlambatan-keterlambatan seperti tahun yang lalu itu sudah bisa dikurangi,” ungkapnya.
Program bongkar ratoon merupakan upaya peremajaan tanaman tebu dengan cara membongkar tanaman lama yang produktivitasnya mulai menurun, lalu menggantinya dengan bibit baru yang lebih unggul. Program ini bertujuan meningkatkan hasil produksi sekaligus memperbaiki kualitas tanaman tebu.
Dalam pelaksanaannya, petani akan mendapatkan dukungan berupa bantuan bibit tebu unggul, biaya tenaga kerja atau Hari Orang Kerja (HOK), hingga pendampingan teknis dari pemerintah bersama penyuluh pertanian.
Menurut Avicenna, tidak semua lahan dapat masuk dalam program bongkar ratoon. Salah satu syarat utama adalah kondisi lahan yang subur dan memiliki ketersediaan air yang cukup, terutama pada fase awal pertumbuhan tanaman.
“Yang penting lahannya subur, kemudian air cukup kalau untuk bibit ini. Makanya kenapa lahan di sini karena airnya masih cukup. Karena pada saat dua bulan musim tanam awal itu harus air,” jelasnya.
Ia menegaskan, ketersediaan air menjadi faktor penting karena tanaman tebu membutuhkan pasokan air yang memadai pada masa awal tanam sebelum memasuki musim hujan.
Di sisi lain, Pemkab Malang juga mewaspadai potensi ancaman El Niño yang diperkirakan dapat memengaruhi musim tanam tahun ini. Meski demikian, kondisi cuaca di Kabupaten Malang hingga pertengahan Mei 2026 masih tergolong aman karena curah hujan masih terjadi di sejumlah wilayah.
Ia menyebutkan, dengan persiapan lebih awal dan dukungan yang optimal, Pemkab Malang optimistis program bongkar ratoon 2026 dapat berjalan lancar dan mampu mendongkrak produktivitas tebu sebagai salah satu komoditas unggulan daerah.
“Kalau prediksi BMKG sebentar lagi kita masuk pada ancaman El Nino. Berarti hujan sudah mulai terakhir ini, walaupun kenyataannya di Malang masih ada. Hingga pertengahan Mei ini curah hujan masih ada di Kabupaten Malang,” tegas Avicenna. (*)






