KabarBaik.co, Malang – Dampak proyek revitalisasi Jalan Nasional Gondanglegi-Balekambang turut dirasakan SDN 1 Srigonco di Desa Srigonco, Bantur, Kabupaten Malang. Sebagian area sekolah terdampak pelebaran jalan sehingga Pemkab Malang melalui Dinas Cipta Karya mulai menyiapkan pembangunan pagar pengaman serta ruang kelas pengganti.
Dinas Cipta Karya bersama tim konsultan telah melakukan pengukuran terhadap area sekolah yang terpotong akibat proyek jalan nasional tersebut. Hasil pengukuran itu akan menjadi dasar pengajuan pembangunan kepada pimpinan.
Staf Dinas Cipta Karya Kabupaten Malang Mafin Subiyanto mengatakan penanganan yang diprioritaskan adalah pembangunan pagar sekolah demi keselamatan siswa mengingat lokasi sekolah kini berbatasan langsung dengan jalur yang dilalui kendaraan.
“Prioritasnya titik yang terpotong dan pagar sebagai pengaman siswa karena lalu lintas kendaraan cukup padat. Selain itu juga direncanakan pembangunan ruang kelas pengganti berukuran 7 x 7 meter,” ujar Mafin, Kamis (22/7), saat di SDN 1 Srigonco.
Ia menjelaskan panjang pagar yang akan dibangun diperkirakan mencapai sekitar 30 meter. Namun, jadwal pelaksanaan maupun besaran anggaran masih menunggu keputusan pimpinan.
“Tahun ini semoga bisa terealisasi,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala SDN 1 Srigonco, Kuma’yah, mengungkapkan sebelum pelebaran jalan dilakukan, pagar sekolah masih berjarak sekitar dua meter dari badan jalan. Setelah proyek berjalan, bagian depan sekolah, termasuk ruang kelas, terdampak hingga sekitar 3,5 meter.
Menurutnya, sebelumnya pembongkaran bangunan sekolah dilakukan secara gotong royong setelah pihak sekolah mendapat pemberitahuan dari pelaksana proyek dan instansi terkait.
“Awalnya kami diminta membongkar. Kalau menggunakan alat berat khawatir bangunan rusak semua, akhirnya kami rapat dengan komite dan warga lalu membongkarnya secara manual,” jelas Kuma’yah.
Ia menyebut hingga kini pihak sekolah masih menunggu realisasi bantuan pembangunan dari pemerintah. Informasi terakhir yang diterima, pembangunan pagar dan pengamanan tembok sisi timur menjadi prioritas, sedangkan pembangunan ruang kelas pengganti masih direncanakan pada tahap berikutnya.
“Kami berharap segera direalisasikan. Yang paling mendesak pagar untuk keamanan siswa dan penggantian ruang kelas agar kegiatan belajar mengajar kembali nyaman,” ujarnya.
Kuma’yah menambahkan dampak proyek pelebaran jalan mulai dirasakan sejak akhir Januari 2026, ketika proses pembongkaran bangunan sekolah dimulai. Sejak saat itu, aktivitas belajar mengajar harus menyesuaikan dengan kondisi fasilitas sekolah yang berkurang akibat proyek jalan nasional tersebut. (*)






