Rata-rata 68 Warga Sidoarjo Meninggal Akibat HIV Tiap Tahun, Dinkes Perluas Skrining

oleh -69 Dilihat
Kepala Dinkes Sidoarjo Lakshmi Herawati Yuantina. (Foto: Achmad Adi Nurcahya)
Kepala Dinkes Sidoarjo Lakshmi Herawati Yuantina. (Foto: Achmad Adi Nurcahya)

KabarBaik.co, Sidoarjo – HIV/AIDS masih menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo. Selama lebih dari dua dekade terakhir, rata-rata 68 orang dengan HIV/AIDS meninggal dunia setiap tahun.

Tingginya angka kematian tersebut mendorong Dinkes terus memperluas skrining HIV sebagai upaya mendeteksi penderita sejak dini, sehingga dapat segera memperoleh terapi antiretroviral (ARV) dan menekan risiko penularan maupun kematian.

Data kumulatif Dinkes mencatat, sejak 2001 hingga Juni 2026 terdapat 7.230 kasus HIV/AIDS di Kabupaten Sidoarjo. Dari jumlah tersebut, 1.708 orang meninggal dunia, sedangkan 810 pasien berstatus loss to follow up (LFU) atau putus dari pemantauan.

Kepala Dinkes Sidoarjo Lakshmi Herawati Yuantina, mengatakan peningkatan jumlah Orang dengan HIV (ODHIV) yang tercatat selama ini bukan berarti penyebaran virus semakin masif. Menurutnya, angka tersebut justru dipengaruhi semakin luasnya cakupan skrining yang dilakukan di berbagai wilayah.

“Semakin banyak skrining yang dilakukan, maka semakin banyak pula kasus yang bisa ditemukan lebih awal. Dengan begitu pasien bisa segera mendapatkan terapi ARV sehingga kualitas hidupnya tetap baik dan risiko penularan kepada orang lain dapat ditekan,” ujar Lakshmi saat ditemui di halaman Setda Sidoarjo, Kamis (23/7).

Dari total 810 pasien LFU, sebanyak 565 orang diketahui berdomisili di luar Kabupaten Sidoarjo, 52 orang menolak melanjutkan pengobatan, sedangkan 193 lainnya belum berhasil ditemukan meski telah dilakukan penelusuran oleh petugas kesehatan.

Berdasarkan kelompok usia, kasus HIV masih didominasi kelompok usia produktif. Kelompok usia di atas 25 tahun menyumbang 6.047 kasus dengan 1.543 kematian. Sementara usia 18–24 tahun tercatat 1.006 kasus dengan 123 kematian, usia 11–17 tahun sebanyak 60 kasus dengan 7 kematian, serta usia 0–10 tahun mencapai 117 kasus dengan 35 kematian.

Lakshmi menjelaskan, penularan HIV pada anak umumnya terjadi melalui transmisi vertikal dari ibu kepada bayi selama masa kehamilan, persalinan, maupun menyusui. Sementara pada kelompok remaja dan dewasa, penularan masih banyak ditemukan pada perilaku berisiko, termasuk pada kelompok Lelaki Suka Lelaki (LSL).

“Untuk usia 0 sampai 10 tahun, kemungkinan besar tertular dari ibunya melalui transmisi vertikal atau menyusui. Sedangkan pada kelompok remaja dan dewasa, kasus LSL cukup dominan. Hal ini dipengaruhi oleh rasa ingin tahu yang besar, dampak media sosial, coba-coba, hingga pengaruh pergaulan,” jelasnya.

Selain memperluas skrining, Dinkes memastikan setiap ODHIV mendapatkan pendampingan agar disiplin menjalani terapi ARV. Kepatuhan mengonsumsi obat dinilai menjadi faktor penting untuk menekan jumlah virus hingga tidak terdeteksi (undetectable), sehingga risiko penularan kepada orang lain menjadi sangat kecil.

“Pengobatan ARV harus dilakukan secara rutin dan konsisten agar viral load menurun hingga tidak terdeteksi. Ketika virus tidak terdeteksi, risiko penularan ke orang lain menjadi sangat kecil,” kata Lakshmi.

Dinkes juga memberikan perhatian khusus kepada bayi yang lahir dari ibu dengan HIV melalui pendampingan dokter spesialis anak, termasuk pemberian susu formula guna mengurangi risiko penularan melalui ASI.

Di sisi lain, edukasi pencegahan terus diperluas. Selain melalui seluruh puskesmas, Dinkes akan menggandeng sekolah dan perusahaan agar pemahaman masyarakat mengenai HIV/AIDS semakin luas sekaligus mengurangi stigma terhadap ODHIV.

“Kami akan terus berproses dan berkolaborasi dengan pihak sekolah serta perusahaan-perusahaan agar sosialisasi dan edukasi pencegahan HIV ini bisa berjalan lebih masif,” ungkap Lakshmi.

Pada 2026, Dinkes Sidoarjo menargetkan 60 kegiatan skrining HIV di 18 kecamatan. Hingga semester pertama, 30 titik skrining telah terlaksana. Sisa kegiatan akan dituntaskan pada semester kedua sebagai bagian dari upaya mempercepat deteksi dini, meningkatkan keberhasilan pengobatan, sekaligus menekan angka kematian akibat HIV/AIDS di Kabupaten Sidoarjo.(*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Achmad Adi Nurcahya
Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.