KabarBaik.co – Pemerintah Kota (Pemkot) Pasuruan terus memperkuat langkah percepatan penurunan stunting dengan mendukung pelaksanaan Program JATIM TERBAIK’S (Jawa Timur Tanggap terhadap Ibu Hamil Risiko Stunting). Program itu dicetuskan Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK).
Program ini diarahkan untuk memperkuat fasilitasi, pembimbingan, dan penguatan pengasuhan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), sehingga ibu hamil berisiko mendapatkan intervensi kesehatan yang tepat dan berkelanjutan.
Kepala DP3AK Provinsi Jawa Timur, Tri Wahyu Liswati, menyampaikan bahwa program ini menjadi salah satu langkah penting dalam penguatan layanan bagi ibu hamil berisiko stunting.
“Kami memperkuat intervensi pada 1000 HPK. Ibu hamil harus mendapatkan edukasi agar memahami pentingnya menjaga kesehatan diri dan calon bayi. Risiko stunting perlu diantisipasi, mengingat dampaknya pada perkembangan otak, tulang, serta sistem imun anak,” jelasnya.
Tri Wahyu juga memaparkan bahwa berdasarkan data SSGI 2024, prevalensi stunting di Kota Pasuruan tercatat sebesar 18,3 persen. Meski angka kematian bayi, anemia, dan kasus Kurang Energi Kronis (KEK) relatif rendah, seluruh indikator tersebut tetap memerlukan perhatian.
Sebagai bentuk intervensi spesifik, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyalurkan 100 paket bantuan bagi ibu hamil berisiko stunting (anemia, KEK, dan perkawinan anak) dari empat kecamatan di Kota Pasuruan. Paket tersebut berisi nutrisi penting seperti susu, zat besi, asam folat, dan kalsium untuk mendukung kesehatan ibu serta pertumbuhan janin.
“Kami berharap bantuan ini menjadi dukungan nyata dalam menjaga kesehatan ibu hamil agar bayi lahir sehat dan terhindar dari risiko stunting,” ujarnya.
Ketua TP PKK Kota Pasuruan, Suryani Firdaus, dalam sambutannya menegaskan bahwa penurunan stunting merupakan bagian penting dalam mendukung implementasi Misi Asta Cita, terutama pada agenda pemberantasan kemiskinan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Diperlukan penyiapan generasi yang sehat, cerdas, dan bebas stunting untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. Upaya pencegahan dan penurunan stunting harus dilakukan secara holistik, integratif, dan berkualitas melalui koordinasi, sinergi, dan sinkronisasi seluruh pihak,” ujarnya.
Suryani juga menyampaikan bahwa sepanjang 2025 Pemkot Pasuruan telah melaksanakan 20 kali Grebek Stunting, yang berfokus pada pemberian makanan bergizi kepada balita stunting serta edukasi pola pengasuhan bagi orang tua. “Edukasi pemenuhan gizi dan pengasuhan 1000 HPK harus dilakukan secara terpadu, terarah, tepat, dan sesuai standar kesehatan,” jelasnya.
Berdasarkan Bulan Timbang Agustus 2025, angka stunting Kota Pasuruan tercatat sebesar 8,08 persen. Sementara itu, Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan adanya tren peningkatan prevalensi stunting sehingga diperlukan penguatan pemantauan tumbuh kembang anak.
“Kunjungan balita ke Posyandu harus terus ditingkatkan. Intervensi yang tepat waktu sangat menentukan keberhasilan penurunan stunting,” imbuhnya.
Kegiatan ini juga menghadirkan sesi edukasi kesehatan oleh dr. Roni Subrata dari RS Graha Sehat Medika, serta dihadiri oleh Ketua I dan II TP PKK, perangkat daerah terkait, camat, dan lurah di lingkungan Pemerintah Kota Pasuruan. (*)






