KabarBaik.co, Kota Malang – Pegawai Rumah Sakit Islam (RSI) Universitas Islam Malang (Unisma) ramai-ramai mengundurkan diri. Kondisi internal rumah sakit, mulai dari dugaan keterlambatan pembayaran gaji hingga pengurangan upah bagi tenaga kesehatan disebut menjadi pemicunya.
Terkait isu keterlambatan pembayaran gaji yang ramai diperbincangkan, Human Resources Development (HRD) RSI Unisma Dwi Ida Nofa Diana tidak membantah adanya kondisi tersebut. Ia mengatakan persoalan itu dialami seluruh jenjang pegawai dan kini sedang diproses melalui mekanisme yang difasilitasi Dinas Tenaga Kerja (Disnaker).
“Kami dari manajemen dan yayasan sudah menghadiri panggilan Disnaker terkait laporan teman-teman. Ada beberapa tahapan pemeriksaan yang harus dilalui dan alhamdulillah semuanya sudah berjalan dengan baik,” ujar Ida, Kamis (16/7).
Ida juga membenarkan adanya pegawai yang mengajukan pengunduran diri. Namun ia menegaskan proses resign dilakukan sesuai prosedur yang berlaku sehingga tidak seluruh pegawai langsung berhenti bekerja dalam waktu bersamaan.
“Memang ada proses pengunduran diri dari teman-teman. Bahkan yang kemarin mengunggah di media sosial masih ada yang aktif bekerja karena masa efektif resign-nya berbeda-beda, ada yang akhir Juli, pertengahan Juli hingga awal Agustus,” kata Ida.
Menurut Ida, setiap pegawai yang mengundurkan diri wajib mengajukan pemberitahuan satu bulan sebelum hari terakhir bekerja. Karena itu, sebagian pegawai yang telah menyampaikan surat pengunduran diri masih tetap menjalankan tugasnya hingga masa kerja berakhir.
Sementara mengenai jumlah pegawai yang mengundurkan diri, khususnya di instalasi farmasi, Ida memperkirakan terdapat sekitar enam hingga delapan orang. Ia menyebut data tersebut bersifat dinamis karena proses resign berlangsung pada periode yang berbeda-beda.
“Kalau farmasi sekitar enam sampai delapan orang. Datanya masuk per periode bulan sehingga tidak bersamaan,” jelasnya.
Ida menegaskan keputusan resign merupakan hak setiap pegawai dan manajemen menghormati pilihan tersebut. Menurutnya, unggahan yang viral di media sosial lebih menggambarkan momen perpisahan para pegawai dengan tempat kerja mereka dibandingkan sebagai bentuk pelampiasan emosi.
Ia juga meluruskan informasi mengenai penutupan farmasi rawat inap. Menurutnya, area tersebut saat ini memang sedang dikosongkan karena menjalani proses renovasi untuk mendukung pembangunan sistem Pelayanan Farmasi Satu Pintu yang nantinya dipusatkan di area depan dekat lobi utama rumah sakit.
Di tengah dinamika internal tersebut, manajemen memastikan pelayanan kepada pasien tetap berjalan normal. Sistem pelayanan 24 jam dengan tiga shift disebut masih dapat dipenuhi melalui pengaturan dan rotasi tenaga kesehatan dari unit-unit yang memiliki kompetensi serupa.
“Kalau ada kekurangan tenaga di satu unit, kami lakukan perbantuan dari unit pelayanan lain yang sejenis. Bukan berarti tenaga nonperawat mengisi tugas perawat. Sejauh ini pelayanan tetap ter-handle dengan baik,” terang Ida.
Ia menambahkan, hingga kini manajemen belum berencana membuka rekrutmen pegawai baru. Langkah tersebut diambil agar rumah sakit dapat lebih memprioritaskan pemenuhan hak-hak karyawan yang masih tertunda tanpa menambah beban biaya operasional.
“Kami fokus pada pemenuhan hak teman-teman. Kalau menambah pegawai baru berarti fixed cost juga bertambah, sementara saat ini prioritas kami adalah menyelesaikan kewajiban yang masih ada,” pungkasnya. (*)






